Lawa Cave

Gua Lawa (Lawa Cave: in javanese, lawa means a bat)

GUA LAWA is a cave located in Siwarak, Karangreja, Purbalingga, Central Java Province. This cave is located on the eastern slopes of Mount Slamet  (900 meters above mean sea level).  Descending from the capital city, GUA LAWA is about 30 km which can be achieved by using public transport.

Length of GUA LAWA  is about 1,300 meters which consists of interconnected horizontal holes. Air temperature inside the cave is around 18-20 degrees Celsius, and light intensity is about 21 -165 Lux (Waluyo et al., 2006). Inside the cave there are a puddle of water, mud and boulders. Also, there are a safe search path along with signposts and lighting by electric lamps.

The cave is formed by igneous rock of andesit basaltic due to lava flow of the volcanic eruption of Mount Slamet.  So, we can not find stalagmites or stalagtites inside the cave.

Mt. Slamet: the highest mount in the central java province

The Cave Mouth

weathering of igneous rocks

the joint

the igneous rocks

is it a spider?

walls of the cave

conglomerates?

water on the floor

the devil cave

:)

BANDUNG – BONDOWOSO

Seperti cinta, pagi pun buta.  Dalam kebutaan pagi itu yang dingin disertai sayup-sayup suara takbir yang menggema membesarkan nama pencipta pagi, saya harus bergegas dari Garut menuju Bandung untuk mengejar kereta api tujuan Surabaya.

Sesungguhnya tujuan akhir saya bukanlah Surabaya tapi Bondowoso.  Perjalanan menggunakan kereta api mengharuskan saya mampir dahulu ke Surabaya, dan kemudian dilanjutkan ke Jember menggunakan kereta api yang lain.  Dari Jember, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan taksi menuju Bondowoso.  Saya tidak tahu mengapa tidak ada kereta api dengan tujuan Bondowoso; tapi saya pikir tidak ada hubungannya dengan cerita gerbong maut yang tragis di Bondowoso itu.

Bondowoso merupakan kota yang sangat tenang.  Walaupun penduduknya kebanyakan bersuku jawa, tapi bahasanya berlogat madura.  Saya bertemu dengan seorang mualaf, seorang pendatang dari Blitar, yang karena sudah puluhan tahun hidup di Bondowoso jadi berlogat Madura … tak iye.

Bondowoso saat ini mungkin seperti Bandung ketika saya masih kecil,  tenang dan sejuk.  Tapi kemiripan Bondowoso dengan Bandung pada saat ini adalah dari sisi makanan khasnya.  PEUYEUM!  Oleh-oleh dari Bondowoso yang terkenal adalah tape singkong (peuyeum) walaupun berbeda dalam cara mengemasnya dengan peuyeum Bandung.  Sejak itu skema pengetahuan saya bertambah, sehingga kalau saya melihat peuyeum maka saya tidak hanya ingat Bandung tapi juga Bodowoso.

Membicarakan peuyeum Bandung terkadang orang sering memplesetkannya dengan peuyeumpuan (perempuan) Bandung.   Konon julukan Bandung Kota Kembang itu karena perempuannya bukan karena bunga dalam arti sebenarnya.   Teuing ah.  Namun ada satu legenda yang akan hadir dalam pikiran saya jika antara tiga kata ini bersatu: Perempuan, Bandung, dan Bondowoso.  Legenda itu adalah legenda tentang berdirinya Candi Prambanan serta kisah cinta Bandung Bondowoso terhadap Roro Jongrang.

Kisah itu mirip dengan kisah cinta Sangkuriang terhadap Dayang Sumbi yang menyertai berdirinya Gunung Tangkuban Perahu di tatar Sunda.  Sangkuriang kabeurangan (kesiangan) demikian juga Bandung Bondowoso.  Fajar palsu yang diciptakan oleh dua orang perempuan di tempat dan waktu yang berbeda telah menggagalkan cinta dan kesaktian dua lelaki itu.   Dayang Sumbi tak mungkin menerima cinta Sangkuriang, anaknya sendiri.  Sementara Roro Jongrang tak sanggup menerima cinta Bandung Bondowoso yang telah membunuh ayahnya.

Sangkuriang marah, menendang perahu yang ia buat dan mengejar Dayang Sumbi.  Dayang Sumbi lari dan ngahiang (menghilang menuju parahiyangan) di suatu tempat.  Perahu yang ditendang Sangkuriang mewujud jadi Gunung Tangkuban Perahu,  tempat menghilangnya Dayang Sumbi kini bernama Gunung Putri di Sumedang.   Dan konon sisa batang pohon untuk membuat perahu tersebut kini menjadi Gunung Bukit Tunggul, serta ranting-rantingnya menjadi Gunung Burangrang.

Adapun mengenai akhir cerita cinta Bandung Bondowoso terdapat dua versi, setidaknya yang saya tahu.  Versi pertama menyebutkan bahwa Bandung Bondowoso marah dan kemudian dengan kesaktiannya mengubah tubuh Roro Jongrang menjadi patung batu yang ke-1000 di Prambanan.  Versi ke-dua menyebutkan bahwa Bandung Bondowoso terus menyelesaikan patung yang ke-1000 walaupun ia  tahu ia sudah gagal memenuhi syarat yang diminta Roro Jongrang dan tidak dapat memperistri Roro Jongrang.

Bandung Bondowoso dalam versi pertama adalah seorang lelaki sakti berkuasa namun biasa seperti Sangkuriang yang akan marah ketika cintanya bertepuk sebelah tangan.  Bandung Bondowoso dalam versi kedua adalah seorang lelaki yang sangat mencintai dan tidak ingin melukai kekasihnya.  Patung ke-1000, ia selesaikan dalam keadaan luka yang dipendamnya di dalam kebesaran cintanya sehingga patung itu akhirnya menyerupai sosok Roro Jongrang, kekasihnya yang menjauh.

Saya menyukai versi yang ke-dua.  Lebih romantis walau pahit … hehehe.
Begitulah … cinta itu seperti pagi, sama-sama buta!

Antapani, November 2011

Kuala Kurun, Kalimantan Tengah

Gunung Mas merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Kapuas sejak tahun 2002. Pusat pemerintahan di Kabupaten Gunung Mas terletak di kelurahan Kuala Kurun, kecamatan Kurun.

Pada saat saya berkunjung ke Kuala Kurun sekitar bulan November 2011, tampak daerah itu masih sedang membangun. Gedung-gedung pemerintahan, yang sebagian masih dalam tahap pembangunan, tersebar di sisi-sisi jalan yang dirancang melingkar.

Dari Palangkaraya menuju Kuala Kurun dapat dilakukan dengan melalui jalan darat yang ditempuh sekitar 3-4 jam perjalanan mengunakan kendaraan. Ruas jalan antara Palangkaraya-Kuala Kurun merupakan jalan perintis yang sudah beraspal walaupun beberapa ruasnya sudah rusak.

jalan menanjak menuju Kuala Kurun

menyeberangi sungai Kahayan

nampang di depan warung Khadizah, sederhana tapi nikmat

salah satu bangunan sekolah dasar di Kuala Kurun

Monumen dalam proses penyelesaian

penampakan Bulan dan Yupiter di Kuala Kurun

penampakan Venus di Kuala Kurun

Ku lihat Bulan

“Aku merindukan diriku sendiri !”, kata punguk. “Mengapa kau khianati aku?”, tanya bulan. “Kudapati cinta dalam diriku sementara padamu yang kutemui hanyalah kecongkakan.”, jawab punguk.

di tepian sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur

di Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat

di Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah

Mengenal Tuhan

Dari pemikiran Hawking tentang awal terbentuknya alam semesta yang tanpa bantuan tuhan,  saya jadi berfikir (untuk sementara) bahwa hukum sebab-akibat yang melandasi sains tidak cukup untuk dapat menyimpulkan ada atau tidak ada tuhan.  Kesadaran manusia tentang ketuhanan lahir secara individualistik dan mengada secara langsung sebagai sebuah anugrah yang itu berarti sebuah pemberian dari tuhan itu sendiri.  Kesadaran ketuhanan yang dialami oleh individu tersebut bisa jadi dipicu oleh penghayatannya dan kekagumannya terhadap mekanisme alam lewat sains, atau lewat pengalamannya selama berinteraksi langsung dengan makhluk lain.  

 

Berbicara soal anugrah, saya jadi teringat cerita seorang penjahat berat yang ingin bertobat dan yang kemudian bertanya kepada salah seorang wanita sufi pada jamannya,”Apakah jika aku bertobat, tuhan akan memaafkanku?”  Sang sufi menjawab,”Tidak!” “Tapi jika tuhan memaafkanmu maka kamu akan bertobat!”

 

Ah, tapi saya tidak ingin berkemelut dengan persoalan jabariah dan qodariah.  Di sini saya hanya ingin meyakini bahwa tuhan maha hidup, maha rohman, maha rohim dan apa yang dapat dilakukan makhluk adalah mengarahkan diri pada kebaikan karena kebaikan lebih dekat pada kebenaran dan karenanya lebih dekat dengan tuhan.  

 

Kembali ke persoalan penciptaan alam semesta.   Saya menemukan sebuah hadist qudsi yang menyatakan, “Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu ‘an u’raf fa khalaqtu al-khalqa li-kay u’raf” (Aku adalah khazanah tersembunyi dan Aku ingin diketahui. Karena itulah Aku menciptakan makhluk agar Aku dapat diketahui).   Mengingat hadist tersebut saya jadi berfikir bahwa tuhan itu ingin lebih dikenal dan dicintai dari pada ingin ditakuti oleh makhluk-makhlunya. 

 

Di lain hal, maqom-maqom yang harus ditempuh oleh murid-murid tasauf biasanya diawali dengan tobat dan diakhiri dengan mahabah atau ma’rifat.  Al ghazali, al kalabadzi, dan yang lainnya mungkin agak berbeda menempatkan maqom-maqom diantara keduanya, tapi paling tidak diantara keduanya terdapat maqom sabar, syukur, taqwa (takut) dan sebagainya.  Dengan maqom-maqom itu pula saya beralasan untuk meyakini bahwa tuhan itu lebih ingin dikenal dan dicintai daripada ingin ditakuti oleh makhluk-makhluknya.

 

Wallohu ‘alam!

Psikologi Islam

Dengan adanya fakultas-fakultas psikologi di universitas Islam seharusnya apa yang disebut dengan psikologi Islam dapat lebih berkembang dan berkontribusi terhadap ilmu psikologi itu sendiri.  Mungkin hal tersebut sudah terjadi atau belum terjadi, saya tidak tahu.

 

Seperti ilmu-ilmu yang lain, psikologi mulai memisahkan diri dari filsafat sejak dia mulai melakukan eksperimen-eksperimen, pengamatan-pengamatan yang terukur, dan tidak semata-mata berdasarkan pada pemikiran-pemikiran spekulatif.  Walaupun begitu, jejak filsafat masih dapat ditemukan dalam beberapa aliran psikologi seperti misalnya psikologi kognitif yang berakar pada pemikiran Descartes dan Kant.

 

Tampaknya aliran psikologi tertentu tersebut akan dipengaruhi oleh bagaimana cara dia memandang diri-manusia dan mendefinisikan apa itu manusia.  Bahwa menurut pandangan Descartes manusia itu hanya terdiri dari jiwa dan tubuh, maka aliran psikologi tertentu yang berdiri di atasnya akan membuat asumsi-asumsi disekitar itu.

 

Walaupun term psikologi itu sendiri secara harfiah berarti ilmu tentang jiwa, tetapi, menurut saya, psikologi islam tidak cukup untuk diartikan sebagai semata-mata ilmu tentang nafs.  Psikologi Islam harus berdasar pada pandangan Islam tentang manusia.  Alih-alih manusia sekedar tubuh dan jiwa, manusia dalam pandangan Islam terdiri dari akal, ruh, nafs, serta qolbu.

 

Eksperimen-eksperimen yang sering dilakukan oleh para ahli psikologi selama ini banyak yang menggunakan binatang seperti anjing, simpanse, tikus, dan sebagainya (seperti misalnya yang dilakukan oleh Pavlov).  Ada beberapa alasan etis  mengapa mereka menggunakan binatang sebagai ‘kelinci’ percobaan.  Namun jika kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari eksperimen itu kemudian diterapkan pada manusia, itu berarti ada asumsi bahwa manusia pada tingkatan tertentu merupakan perluasan dari binatang.  Sepertinya hal itu harus diterima sebagai pengaruh dari teori evolusi.

 

Kecerdasan Emosi yang diusulkan oleh Daniel Golemann, bagi saya merupakan sesuatu yang cukup fundamental, sangat berpengaruh pada cara pandang kita terhadap kecerdasan.  Kecerdasan tidak lagi dipandang hanya semata-mata tingginya IQ.  Hal ini kemudian menjadi referensi dari semua orang saat ini.  Namun sebagian orang mungkin lupa, atau menganggap tidak cukup penting untuk dipermasalahkan,  bahwa Daniel merumuskan kecerdasan emosi tersebut berdasarkan pada asumsi manusia sebagai hasil evolusi.

 

Point saya adalah jika kita ingin membangun apa yang namanya psikologi islam maka kita harus memperhatikan bagaimana islam memandang manusia.  Hal tersebut berarti bahwa kita harus mampu mendefinisikan apa yang dimaksud dengan ruh, nafs, qolb, maupun aql tadi serta menjadikannya sebagai bahan studi dalam penelitian-penelitian psikologi.  Tidak menutup kemungkinan bahwa selama ini para ahli psikilogi juga sudah bekerja dalam wilayah itu namun dengan istilah-istilah yang berbeda.

 

Wallohu ‘alam ….

Ketidaktahuan

Jauh sebelum kosmologi modern lahir, Al Kindi (803-873) [1] secara filofis menyatakan bahwa alam semesta itu terbatas.  Argumentasinya hanya berdasarkan pada bahwa setiap benda berapapun besarnya pasti terbatas dan kumpulan dari benda-benda itu berapapun banyaknya juga pasti terbatas.   Apa di luar alam semesta?

Kosmologi modern menyatakan bahwa alam semesta kita saat ini tersusun dari:

* 4,6% Atom-atom, yang menyusun semua materi yang tampak seperti: manusia, hewan,   tumbuhan, bumi, galaksi;

* 23% Materi Gelap.  Gelap karena kita tidak dapat mengamati pancaran radiasinya, namun diketahui keberadaannya dari gravitasi yang ditimbulkannya;

* 72% Energi Gelap.  Keberadaan energi ini diperlukan untuk menjelaskan percepatan ekspansi alam semesta. [2]

Mungkin pertanyaan itu tidak bermakna.  Namun menurut Godel, akan ada sesuatu diluar lingkaran alam semesta itu yang ada tapi tidak dapat dibuktikan.

Godel adalah seorang matematikawan.  seorang matematikawan tentu senang dengan bukti.  Namun terdapat sesuatu yang menurut mereka benar tapi tidak dapat dibuktikan.  Misalnya geometri euklidian yang kita pelajari di sekolah menengah dulu.  Segitiga, lingkaran beserta luas dan kelilingnya yang kita pelajari dulu itu berdiri di atas 5 postulat euclid [3].  Walaupun semua orang tahu bahwa kelima postulat euklid itu benar, namun selama 2500 tahun postulat itu tidak dapat dibuktikan kebenarannya [4].

==========

Dulu saya berfikir bahwa sesuatu di luar alam semesta itu adalah tuhan.  Seluas apapun alam semesta maka di luar itu ada tuhan yang tidak terbatas, maha luas! Sejenak saya berhenti dari pemikiran itu karena ada sebuah hadis yang melarang memikirkan dzat Alloh. Namun lingkungan terkadang memaksa seseorang untuk mengingat lagi hal-hal yang sudah dilupakan. 

Belakangan ini saya mempelajari konstruktivisme [5].  Bahwa pengetahuan itu dibentuk berdasarkan pengetahuan sebelumnya.  Manusia membentuk pengetahuan berdasarkan apa-apa yang sudah diketahuinya.  Berdasarkan konstruktivisme jelas bahwa kita tidak dapat mengkonstruksi pengetahuan tentang tuhan, Alloh. Karena dalam al-Qur’an surat al-ikhlas dinyatakan bahwa tidak ada yang menyerupai Dia (walam yakullahu kufuan ahad), oleh karena itu kita, sampai kapanpun, tidak akan sampai pada pengetahuan tentangNya.

Sebagian sufi berpendapat bahwa pengetahuan tentang Alloh adalah ketidaktahuan dan keheranan.  

Wallohu a’lam

 

Ref.

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Kindi

[2] http://map.gsfc.nasa.gov/universe/uni_matter.html

[3] http://www.mathreference.com/geo,post.html

[4] http://www.cosmicfingerprints.com/incompleteness/

[5] http://viking.coe.uh.edu/~ichen/ebook/et-it/cognitiv.htm

Mabuk Kesadaran

Lemparkan saja kesadaranmu itu ke cawan ini, biarkan ia larut bersama anggur di dalamnya.

Oh … Betapa hidup ini memabukkan dan mereka hidup diantara pemabuk.

Mari kita mabuk, katanya.

Karena aku, kamu dan semuanya harus mabuk, katanya.

Kami, para pemabuk punya aturan sendiri,

dan siapapun yang berada disini harus ikut aturan kami.  Mari kita mabuk!

Tidak, jawab mereka.

Anggur terlalu mahal bagi kami, jawab mereka.

Lagian kami masih butuh kesadaran untuk mengolah lumpur,

agar kelak beras-beras yang kami butuhkan lahir di atasnya.

Duhai … betapa sulit berkata-kata dengan manusia dari kelas rendah, katanya.

Duhai … betapa lebih sulit lagi berkata-kata dengan para pemabuk, kata mereka.

Dana Pinjaman Global Warming

Seperti yang dikutip oleh Sains Kompas, Menteri Keuangan Agus Darmawan Wintarto Martowardojo mengatakan:

“Kami membahas masalah Dialog Bali (pertemuan yang menggali upaya memitigasi perubahan iklim yang ekstrim). Di situ semua negara berpartisipasi untuk bagaimana mengatasi perubahan iklim. Kami juga mencari cara, bagaimana supaya pada tahun 2020 ada penghimpunan dana hingga 100 miliar dollar AS untuk mengatasi dan menjawab isu-isu perubahan iklim.”

Indonesia sendiri sebelumnya sudah meminjam dana sebesar 500 juta dollar AS untuk berpartisipasi dalam menangani persoalan global warming.  Pinjaman dana tersebut berasal dari Agence Francaise de Development (AFD) sebesar 200 juta dollar AS dan dari Japan International Cooperation Agency (JICA) sebesar 300 juta dollar AS (Sumber Sains Kompas).

Menurut JICA dalam press releasenya,  Indonesia merupakan negara ke-4, setelah China, Amerika, dan Brasil, sebagai negara penyumbang CO2 terbesar.  Oleh karena itu tampaknya Indonesia berhak atas pinjaman dana tersebut di atas.

Bagaimana pemanfaatan dana pinjaman yang cukup besar tersebut?  Cukup efektifkah program-program yang direncanakan dan dijalankan untuk menangani pemanasan global di Indonesia?

Sebetulnya ada  persoalan yang lebih mendasar dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas yaitu Apakah pemanasan global (global warming) dapat diatasi oleh manusia?

Jawaban pertanyaan tersebut seharusnya dijawab oleh para ahli iklim (klimatolog) yang karena ilmunya lebih memahami persoalan.   Di Amerika sendiri banyak ilmuwan yang menolak pemanasan global itu disebabkan oleh manusia.  Oleh karena itu usaha-usaha untuk menanganinya, dalam hal ini pembatasan emisi karbondioksida, tidaklah logis.

Kalau kita menerima argumentasi yang menyimpulkan bahwa pemanasan global itu bukan disebabkan oleh manusia maka pinjaman dana yang cukup besar tersebut adalah pemborosan.

Pustaka:

  • http://sains.kompas.com/read/2011/04/21/16493939/Indonesia.Incar.Dana.Penanganan.Iklim
  • http://www.jica.go.jp/english/news/press/2010/100623.html

Tujuan Pembelajaran

Perumusan Tujuan Pembelajaran melalui pendekatan Dick, Carey, dan Carey

Perbedaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

 Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan pengertian tentang kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, serta tujuan pembelajaran. Masing-masing pengertian tersebut adalah:

  • Kompetensi dasar

Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran;

  • Indikator pencapaian kompetensi

Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan;

  •  Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Berbeda dengan kompetensi dasar yang merupakan salah satu bagian dari Standar Isi yang ditetapkan oleh pemerintah (PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006), indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran diserahkan sepenuhnya ke setiap satuan pendidikan dengan mengacu pada suatu kompetensi dasar tertentu.

Suatu kompetensi dasar yang dipilih akan diturunkan menjadi beberapa indikator pencapaian. Sesuai dengan pendefinisian mengenai indikator pencapaian kompetensi di atas, maka pada dasarnya indikator adalah perilaku yang dapat diukur/diamati (lihat PERMENDIKNAS tentang Standar Proses). Oleh karena itu penulisan indikator menggunakan kata kerja operasional yang mencakup ranah (domain) belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik yang disesuaikan dengan kata kerja pada kompetensi dasar yang dipilih. Kata kerja-kata kerja yang dipilih dapat dilihat pada pembahasan sebelumnya mengenai domain belajar.

Dari indikator yang telah dibuat kemudian dirumuskan tujuan pembelajarannya. Sesuai dengan pendefinisian tujuan pembelajaran menurut PERMENDIKNAS tentang Standar Proses, tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar. Oleh karena itu secara definitif, tujuan pembelajaran berbeda dengan indikator pencapaian kompetensi. Perlu ditekankan lagi bahwa indikator pencapaian kompetensi menyatakan perilaku terukur/teramati sedangkan tujuan pembelajaran menyatakan proses dan hasil yang diharapkan.

Walaupun menentukan tujuan pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dalam suatu perancangan pembelajaran, namun untuk merumuskannya terdapat kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru/instruktur. Salah satu kesulitan tersebut adalah tidak adanya suatu model yang mampu membimbing guru/instruktur dalam membuat tujuan pembelajaran tersebut (Dick, Carey, and Carey, 2005).

Perumusan Tujuan Pembelajaran berdasarkan pendekatan Dick, Carey, dan Carey.

Dalam literatur-literatur berbahasa Inggris dikenalkan istilah-istilah seperti instructional goal, instructional objective, performance objective, behavioral objective. Dick, Carey, dan Carey menyatakan bahwa instructional goal merupakan langkah pertama dalam perancangan pembelajaran berupa pernyataan yang jelas mengenai apa yang akan dapat dilakukan oleh pembelajar sebagai hasil dari suatu pembelajaran. Dalam hal ini, suatu kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Standar Isi dapat diasumsikan sebagai instructional goal tersebut dan selanjutnya ditulis sebagai kompetensi dasar.

Selanjutnya Dick, Carey, dan Carey menyatakan bahwa performance objective adalah gambaran detail mengenai apa yang akan mampu dilakukan oleh pembelajar ketika pembelajar tersebut menyelesaikan suatu pembelajaran. Menurut Dick, Carey, dan Carey instructional objective, performance objective, dan behavioral objective merupakan istilah yang sinonim. Dalam hal ini instructional objective, performance objective, atau behavioral objective adalah tujuan pembelajaran dan selanjutnya ditulis sebagai tujuan pembelajaran.

Menurut Dick, Carey, dan Carey; ketika instructional goal diubah menjadi tujuan-tujuan pembelajaran, instructional goal tersebut diacu sebagai terminal objective. Terdapat perbedaan antara instructional goal dengan terminal objective terutama dalam konteks kemampuan yang akan diperoleh tersebut ditunjukkan. Instructional goal mengutarakan kemampuan yang akan dimiliki oleh pembelajar setelah mereka menyelesaikan suatu pembelajaran dalam konteks dunia-nyata, bukan dalam situasi pembelajaran. Sementara terminal objective mengutarakan secara jelas kemampuan apa yang akan dimiliki pembelajar dalam konteks situasi (proses) pembelajaran. Oleh karena itu tujuan pembelajaran – tujuan pembelajaran yang diturunkan dari suatu instructional goal seharusnya juga dirumuskan dalam konteks proses pembelajaran. Hal tersebut bertepatan dengan pengertian tujuan pembelajaran yang terdapat dalam Standar Proses di atas yaitu suatu gambaran proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Menurut Dick, Carey, dan Carey; dengan berdasarkan pada Robert Mager; terdapat tiga komponen utama yang harus ada dalam menyatakan sebuah tujuan pembelajaran. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Komponen pertama adalah mengutarakan kemampuan (skill) atau perilaku (behaviorial) yang akan dimiliki oleh pembelajar. Komponen ini mengandung aksi (dirumuskan dalam bentuk kata kerja operasional) dan isi atau konsepnya. Perumusan komponen pertama ini sama dengan perumusan indikator pencapaian kompetensi karena seperti telah dikemukakan sebelumnya indikator pencapaian kompetensi pada dasarnya adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu.

  2. Komponen kedua adalah mengutarakan kondisi (condition) yang akan diberlakukan ketika pembelajar mengerjakan tugasnya. Apakah pembelajar akan diijinkan menggunakan komputer? Akankah pembelajar diberikan sebuah paragraf untuk dianalisis? Pada intinya kondisi-kondisi ini mengacu pada keadaan sekitar dan sumber-sumber belajar yang akan disediakan bagi pembelajar.

  3. Komponen ketiga adalah mengutarakan kriteria yang akan digunakan untuk menilai tingkat prestasi pembelajar yang dapat diterima setelah mereka menyelesaikan suatu pembelajaran. Dalam hal pemilihan kriteria bisa menjadi sesuatu yang kompleks. Kriteria untuk sebuah kursi yang baik, misalnya, bisa berdasarkan pada kekuatannya; berdasarkan kenyamanannya; dan berdasarkan aspek estetikanya (warna, keseimbangan, koordinasi dan sebagainya).

Perumusan tujuan pembelajaran yang diturunkan dari kompetensi dasar berdasarkan pendekatan Dick, Carey, dan Carey yang telah diuraikan sebelumnya ditunjukkan oleh gambar di bawah.

Perumusan Tujuan Pembelajaran

Referensi:

_______. 2006.Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BNSP

_______.2006. PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

 _______.2007. PERMENDIKNAS RI No.47 Tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dick, W., Carey, L. & Carey J. O. 2005. The Systematic Design of Instruction. 6th Ed. Newyork: Pearson.

Apakah Matahari mengelilingi Bumi?

Beberapa tahun yang lalu telah terbit sebuah buku “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari”.  Sudah banyak tanggapan terhadap keberadaan buku tersebut. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan judul buku tersebut dan akan melihatnya dari perspektif lain.

Penulis buku tersebut berargumentasi mengenai pendapatnya tentang matahari yang mengelilingi bumi (bukan bumi yang mengelilingi matahari) dengan berdasarkan penafsirannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist-hadist Nabi S.A.W. Saya tidak akan menafsirkan ulang hal-hal tersebut di atas hanya karena memang saya tidak memiliki kompetensi untuk itu. Namun hemat saya karena persoalan tersebut menyangkut fenomena alam maka persoalan tersebut harus diletakkan pada konteks ilmu alam itu sendiri. Ada hal yang paling mendasar yang membedakan ilmu alam dengan pemikiran spekulatif (perenungan, filsafat) yaitu observasi, pengumpulan data, pengujian, dan sebagainya.

Jauh sebelum buku ini muncul, sesungguhnya Ptelomeus (90 – 168 AD: beberapa ratus tahun sebelum Islam lahir di Mekah) telah membuat model yang menempatkan bumi sebagai pusat tata surya dimana semua benda langit mengelilingi bumi termasuk matahari. Ptelomeus mencoba memodelkan gerakan matahari, bulan serta benda-benda lain tersebut sebagai usaha untuk memahami gerakan-gerakan mereka (Gambar 1).

Pada waktu itu planet (yang secara harpiah berarti pengembara: karena posisinya di langit selalu berubah relatif terhadap bintang-bintang yang menjadi latar belakangnya) yang diketahui adalah Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan Saturnus. Planet-planet tersebut sudah diketahui dan diamati sejak milenium kedua sebelum masehi oleh bangsa Babilonia.

Gambar 1. Model Ptolemean. Sumber: http://www.physics.carleton.ca/~watson/Physics/NSCI1000/Pseudo-science/Gifs/Ptolemy_solar_system.gif

Model Ptolemean tersebut bertahan belasan ribu tahun, setidaknya sampai Nicolas Copernicus (jika astronom muslim tidak dimasukkan) membuat model lain yang berbeda dengan menjadikan matahari sebagai pusat dimana bumi mengelilingi matahari (Gambar 2).

Gambar 2. Model Kopernikan. Sumber: http://csep10.phys.utk.edu/astr161/lect/retrograde/copernican.html

Setelah itu muncul Tycho Brahe (14 December 1546 – 24 October 1601) astronom Denmark yang memberikan model dengan bumi sebagai pusat yang walaupun begitu tetap berbeda dengan model Ptelomean (Gambar 3).

Gambar 3. Model Tychonik. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Tycho_Brahe

Data yang dikumpulkan oleh Tycho Brahe kemudian hari digunakan oleh Kepler untuk menyusun hukumnya yang terkenal, Hukum Kepler. Walaupun data yang digunakan oleh Kepler itu berasal dari Tycho Brahe namun model yang diusulkan Kepler berbeda dengan Model Tycho. Kepler menyimpulkan, salah satunya, bahwa planet-planet bergerak dalam lintasan elips dengan matahari sebagai pusatnya terletak di salah satu titik fokus elips tersebut (Gambar 4). Dalam hal ini, model Keplerian ini termasuk model heliosentrik seperti halnya model Copernikan.

Gambar 4. Model Keplerian.  Sumber: http://www.ifa.hawaii.edu/~barnes/ast110_06/hfts/kepler_model.png

Kemudian era pengamatan menggunakan teleskop di Eropa dimulai yaitu sejak Galileo Galilei (15 February 1564– 8 January 1642) dari Italia menciptakan teleskop. Dengan teleskopnya itu Galilio dapat melihat kawah-kawah di bulan, satelit-satelit yang mengorbit Yupiter (Gambar 5), fase-fase penampakan Venus (Gambar 6) yang semuanya itu, sebelumnya, tidak dapat terlihat dengan menggunakan mata telanjang. Bagi Galileo fase-fase Venus tersebut hanya mungkin terjadi seperti itu jika model tata suryanya adalah heliosentrik: matahari menjadi pusat. Model-model geosentrik, model Ptelomean maupun model Tichonic, tidak dapat menjelaskan fenomena penampakan Venus tersebut. Oleh karena itu Galilio kemudian mendukung Kepler dengan sistem heliosentriknya dan untuk itu Galilio diadili dan divonis penjara seumur hidup oleh otoritas gereja yang saat itu percaya bahwa bumi merupakan pusat alam semesta.

Gambar 5. Yupiter bersama satelit yang mengelilinginya. Sumber: http://www.jb.man.ac.uk/astronomy/nightsky/Jupiterjuly10.jpg
Gambar 6. Fase-fase Venus. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Phases_Venus.jpg

Sepenggal dari sejarah panjang bagaimana manusia di bumi memahami (pergerakan) benda-benda langit tersebut adalah bukti bahwa ilmu alam itu terbuka terhadap kritik. Bukan sebuah dogma yang dapat begitu saja ditelan tanpa dikunyah oleh pikiran dan diuji melalui pengamatan. Dengan bantuan teknologi yang semakin canggih seperti misalnya saja sebuah teleskop yang baik yang mudah kita peroleh saat ini, kita dapat ikut andil untuk menguji, memahami mana yang benar. Namun haruslah disadari bahwa mengamati benda-benda langit itu dibutuhkan ketelitian serta kesabaran yang jauh dari ketergesa-gesaan dan kecerobohan. Pergerakan semu matahari dapat kita saksikan tiap hari. Namun misalnya saja penampakan fase-fase Venus tidak dapat kita saksikan secara utuh dalam satu hari; mengamati paralaks suatu bintang bisa jadi butuh waktu berbulan-bulan kalau tidak tahunan. Dan lagi, untuk semua itu, seringkali kita mesti bekerja di bawah naungan malam yang pekat, jauh dari kegemerlapan kota. Paling tidak, itulah yang dilakukan oleh Tycho Brahe, Galileo, Al Sufi serta astronom lainnya (yang muslim maupun yang bukan muslim).

Jadi, dalam konteks ilmu alam, jika disimpulkan matahari itu mengelilingi bumi maka tunjukkanlah modelnya: bagaimana susunan dan berapakah jarak masing benda-benda langit tersebut. Kemudian model tersebut harus diuji kesesuiannya dengan realitas; harus konsisten dan mampu menjelaskan semua fenomena seperti fase Venus, gerak retrograde planet, paralaks bintang, dan masih banyak lagi. Setelah itu, barangkali kita masih punya tenaga, pikirkan hal yang paling mendasar: mengapa hal itu terjadi?; apakah hukum yang mengatur semuanya?; apakah hukum tersebut dapat diterapkan untuk menjelaskan semua fenomena yang terjadi di alam semesta?

Yah … sebuah rangkaian pekerjaan yang panjang dan bisa jadi memerlukan waktu yang lebih panjang dari umur manusia. Tapi jangan berkecil hati kalau mau sungguh-sungguh, karena sesungguhnya telah berlalu orang-orang yang mengabdikan dirinya dan menghabiskan hidupnya untuk melakukan hal itu. Demi memenuhi rasa ingin tahu serta memperoleh keyakinan dan kebenaran ilmiah.  Tanpa pamrih!

Pustaka:

  • http://en.wikipedia.org/wiki/Galileo_Galilei
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Phases_of_Venus
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Tycho_Brahe
  • http://harry.sufehmi.com/archives/2006-06-22-1188/
  • http://csep10.phys.utk.edu/astr161/lect/retrograde/copernican.html
  • http://wapedia.mobi/en/Timeline_of_solar_system_astronomy
  • http://www.physics.carleton.ca/~watson/Physics/NSCI1000/Pseudo-science/Gifs/Ptolemy_solar_system.gif
  • http://id.shvoong.com/exact-sciences/astronomy/2063447-matahari-mengelilingi-bumi/

Astronomi dan Islam: Abd-al-Rahman Al Sufi

Abd-al-Rahman Al Sufi

(7 December 903 – 25 Mei 986 Masehi)

Kawah Azophi: salah satu nama kawah di Bulan. (Kredit: http://s1.hubimg.com/u/3107448_f260.jpg)


Abd-al-Rahman Al Sufi adalah salah satu intelektual muslim dari Persia yang mempunyai kontribusi pada dunia astronomi. Al Sufi hidup pada tahun 903-986 Masehi di saat Eropa sedang mengalami zaman kegelapan intelektual.

Pada awalnya Al Sufi mempelajari astronomi berdasarkan warisan intelektual Yunani terutama buku Almagest-nya Ptolemeus. Al Sufi melakukan beberapa koreksi terhadap daftar bintang yang dibuat oleh Ptolemeus. Al Sufi membuat sebuah katalog 1018 bintang disertai kecerlangan, posisi serta warna bintang-bintang tersebut. Sekitar tahun 904 M, Al Sufi menerbitkan bukunya yang terkenal yaitu “Book of Fixed Stars” (Kitab al-Kawatib al-Thabit al-Musawwar). Buku tersebut menggambarkan hasil kerjanya dalam bentuk penjelasan teks maupun gambar.

Sebuah halaman dalam Kitab suwar al-kawakib (kredit:http://members.westnet.com.au/gary-david-thompson/page11-29.html)

Gambar diedit dari http://messier.obspm.fr/more/m031_alsufi.html

Dalam gambar dan penjelasannya mengenai Andromeda, Al Sufi menyertakan “Awan Kecil” sebelum mulut seekor Ikan Besar (nama rasi bintang Arab). Awan Kecil tersebut kemudian dikenal sebagai galaksi Andromeda (M31) yang ditemukan kembali oleh Simon Marius pada 15 Desember 1612 dengan teleskopnya. Al Sufi juga menemukan gugus bintang yang sekarang dikenal sebagai Collinder 399.

Di dunia barat, Al Sufi dikenal dengan sebutan Azophi. Sebagai penghormatan kepadanya, komunitas astronomi dunia menyematkan namanya menjadi nama salah satu kawah di Bulan, yaitu kawah Azophi.

Galaksi Andromeda (Kredit: http://messier.obspm.fr/m/m031.html)

Gugus Terbuka Collinder 399 (Kredit: http://messier.obspm.fr/xtra/ngc/brocchi.html)

Pustaka:

http://www.astrosurf.com/cielextreme/page50E.html

http://messier.obspm.fr/xtra/Bios/alsufi.html#schjellerup1874%22

http://messier.obspm.fr/xtra/ngc/brocchi.html

http://messier.obspm.fr/m/m031.html

http://www.wdl.org/en/item/2484/pages.html#volume/1/page/1

http://en.wikipedia.org/wiki/Azophi_%28crater%29

http://members.westnet.com.au/gary-david-thompson/page11-29.html

Perubahan Iklim atau Pemanasan Global?

Pengertian pemanasan global selalu dikaitkan dengan perubahan iklim.  Apa kaitannya?

=== Sebetulnya penulisan yang sesuai dengan EYD harusnya adalah pengubahan iklim bukannya perubahan iklim, karena kata dasarnya adalah UBAH bukan RUBAH…. :) ===

Pertanyaan di atas itu sederhana (untuk sebagian orang) tapi saya pikir penting.  Lalu apa?

Kalau kita belajar klimatologi (ilmu mengenai iklim) maka akan ditemui apa yang disebut unsur-unsur iklim.  Unsur-unsur iklim yang utama adalah suhu udara, tekanan udara, kelembapan udara, curah hujan, durasi (lamanya) penyinaran matahari, kecepatan angin, serta perawanan, embun, dan kabut.  Unsur-unsur iklim juga merupakan unsur-unsur cuaca.

Dalam kaitannya dengan pemanasan global maka unsur iklim yang sering ditinjau adalah suhu.  Dari data suhu global yang dicatat sejak sejak 1850 tampak kecenderungan suhu yang meningkat.  Peningkatan suhu global tersebut tidak terjadi setiap tahun.  Itu artinya bahwa suhu pada tahun 2021 nanti belum tentu akan lebih tinggi dari tahun 2011 ini misalnya.  Jika dikatakan Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir itu berarti kita berhadapan dengan rata-rata suhu selama tahun tertentu dibandingkan dengan rata-rata suhu selama tahun tertentu lain yang dianggap normal.

Terjadinya peningkatan suhu rata-rata secara global tersebut maka itu berarti terjadinya pengubahan iklim secara global.  Hal itu juga berarti bahwa jika terjadi penurunan suhu rata-rata global, seperti juga pernah dialami bumi jutaan tahun yang lalu, maka telah terjadi pula pengubahan iklim global.

Sejarah Iklim di Bumi.

Sumbert Gambar:  http://www.scotese.com/images/globaltemp.jpg


Artikel terkait:

Apakah pemanasan global dibuat oleh manusia?


Venus (http://id.wikipedia.org/wiki/Venus)

“Pemanasan Global” kalau kata itu dicari dengan menggunakan google search engine maka google akan mengatakan Sekitar 2,390,000 hasil (0.11 detik). Tapi coba “Penipisan Lapisan Ozon”, maka dia akan bilang “Sekitar 410,000 hasil (0.21 detik)”.

Pemanasan global memang menjadi isu yang menarik belakangan ini. Tampaknya setiap berbicara lingkungan hidup maka tidak lengkap kalau tanpa pembicaraan mengenai pemanasan global beserta dampaknya yang “mengerikan” itu.  Lebih dari itu, pemanasan global seakan-akan menjadi ideologi baru yang merasuk dan melandasi setiap aktivitas dan keputusan.

Dari data suhu permukaan bumi memang tampak kecenderungan suhu yang naik. Kecenderungan suhu tersebut kemudian dikaitkan dengan jumlah karbon-dioksida yang terus bertambah di atmosfer. Celakanya lagi, bertambahnya karbon-dioksida tersebut disinyalir akibat aktifitas manusia. Jadilah pemanasan global itu disimpulkan akibat manusia. Oleh karena itu kemudian orang ramai menggalakkan pencegahan pemanasan global tersebut. Suatu pemikiran yang logis.

Tapi apakah betul pemanasan global tersebut adalah karena semata-mata aktivitas manusia melemparkan karbon-dioksida ke atmosfer?? Betulkah meningkatnya jumlah karbon-dioksida di atmosfer selama ini yang menyebabkan pemanasan global?? Sejauh mana manusia sanggup mengendalikan iklim??

Disinilah perlunya data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Namun data saja tidak cukup, karena ternyata data tersebut harus ditafsirkan dengan benar dan diperlakukan dengan sikap yang jujur, dengan integritas.

Baiklah, saya hanya ingin menyampaikan apa sudah banyak disampaikan oleh orang lain. Selain Al-gore dengan IPCC nya beserta ilmuwan-ilmuwan yang mendukungya itu, terdapat ilmuwan lain yang berbeda pendapat. Mereka berbeda pendapat dengan Al Gore dan tidak sepakat bahwa pemanasan global yang terjadi adalah akibat ulah manusia.

Di antara mereka itu adalah:
1. 31.487 orang ilmuwan amerika yang menandatangani petisi pemanasan global; (http://www.petitionproject.org/)
2. Stephen McIntyre (http://www.newstatesman.com)

Jadi, apa yang harus kita sampaikan pada anak-anak kita???


Artikel terkait:

Taksonomi Psikomotorik

Untuk taksonomi ranah psikomotorik, Bloom beserta koleganya tidak menyusunnya walaupun telah merencanakan hal tersebut. Salah satu versi taksonomi ranah psikomotorik ini adalah versi Dave. Dalam versi Dave ini, taksonomi ranah psikomotorik terdiri dari lima tingkat seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3 di bawah (lihat Shirran, A., 2006, hal. 17 – 20).


Tabel 3 Taksonomi ranah psikomotorik versi Dave

Tingkat

Keterangan

1. Imitasi Mengamati dan meniru tindakan yang dilakukan oleh orang lain.
Dalam hal ini bisa jadi peniruannya tidak cukup sempurna.
2. Manipulasi Suatu tindakan dilakukan dengan berdasarkan instruksi.
3. Ketepatan Keakuratan, proporsi, dan ketepatan hadir dalam suatu kemampuan
kinerja tanpa kehadiran sumber aslinya.
4. Artikulasi Dua atau lebih keterampilan digabungkan, diurutkan, dan
dilakukan secara konsisten.
5. Naturalisasi Dua atau lebih keterampilan digabungkan, diurutkan, dan
dilakukan secara konsisten dan mudah. Kinerja dilakukan secara
otomatis dengan pengerahan energi mental dan fisik yang sedikit.
Memiliki tingkat kinerja tinggi yang alami, tanpa harus berpikir
banyak mengenai apa yang dilakukan.

Referensi

Shirran, A. (2006). Evaluating Students. (diterjemahkan oleh Nien Bakti Soemanto). Jakarta: PT Grasindo

Taksonomi Afektif

Taksonomi ranah afektif yang disusun oleh Bloom dan kawan-kawan (lihat Krathwohl, D.R., et. al., 1964) terdiri dari lima kategori utama yaitu: penerimaan (receiving), tanggapan (responding), penilaian (valuing), pengaturan (organization), serta karakterisasi berdasarkan nilai (Characterization by Value). Ke lima kategori tersebut beserta subdivisinya ditampilkan kembali pada Tabel 2 di bawah.

Tabel 2 Taksonomi Ranah Afektif

Kategori

Deskripsi

Subdivisi

1. Penerimaan (Receiving) Peka terhadap kehadiran fenomena tertentu dan bersedia untuk
menerimanya.
1.1. Kesadaran1.2. Kesediaan untuk menerima

1.3. Perhatian yang terkontrol

2. Tanggapan (Responding) Bersedia untuk menanggapi secara aktif. 2.1. Persetujuan secara diam-diam dalam menanggapi2.2. Kesediaan untuk menanggapi

2.3. Kepuasan dalam menanggapi

3. Penilaian (Valuing) Menampilkan keterlibatan atau komitmen tertentu. 3.1. Penerimaan sebuah nilai3.2. Preferensi sebuah nilai

3.3. Komitmen

4. Pengaturan (Organization) Memadukan nilai baru ke dalam sistem nilai yang ada, menentukan
hubungan di antara nilai-nilai tersebut, mendirikan salah satu
yang dominan.
4.1. Konseptualisasi nilai4.2. Pengorganisasian sistem nilai
5. Karakterisasi berdasarkan nilai (Characterization by Value) Bertindak secara konsisten dengan nilai-nilai baru yang
diperoleh.
5.1. Penetapan umum5.2. Karakterisasi

Referensi

Krathwohl, D.R., Bloom, B.S., & Masia, B.B. (1964). Taxonomy of Educational Objectives, The Classification Of Educational Goals. Handbook II: Affective Domain. New York: David Mc Kay Company, Inc. File PDF tersedia pada http://ebookee.org/Taxonomy-of-Educational-Objectives-Handbook-II-Affective-Domain_462371.html

Taksonomi Kognitif

Taksonomi untuk ranah kognitif terdiri dari enam klasifikasi utama yaitu: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (sysnthesis), dan evaluasi (evaluation) (Bloom et. al., 1956, hal. 18). Uraian singkatnya dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah.

Tabel 1 Taksonomi Ranah Kognitif

Klasifikasi

Deskripsi Singkat

Jenis

1. Pengetahuan Pengetahuan disini didefinisikan sebagai perilaku yang
menekankan pada usaha mengingat ide-ide, pokok-pokok, atau
fenomena-fenomena.Penyusunan jenis atau level pada klasifikasi ini berawal dari
bentuk yang khusus dan nyata sampai pada yang kompleks dan
abstrak.
1.10. Pengetahuan tentang hal-hal yang khusus

1.11. Pengetahuan tentang
terminologi

1.12. Pengetahuan tentang
fakta-fakta khusus

1.20. Pengetahuan tentang cara yang berhubungan dengan hal-hal
yang khusus

1.21. Pengetahuan tentang konvensi

1.22. Pengetahuan tentang kecenderungan dan urutan

1.23. Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori

1.24. Pengetahuan tentang kriteria

1.25. Pengetahuan tentang metodologi

1.30. Pengetahuan tentang hal-hal yang universal dan abstraksi

1.31. Pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan
generalisasi

1.32. Pengetahuan tentang teori dan struktur

2. Pemahaman Pemahaman disini adalah perilaku atau respon yang menyatakan
suatu pengertian terhadap pesan literal yang terkandung dalam
komunikasi.
2.10. Translasi2.20. Interpretasi

2.30. Ekstrapolasi

3. Penerapan Dalam ranah kognitif ini, taksonomi disusun berdasarkan suatu
hirarki dimana suatu klasifikasi akan tergantung pada klasifikasi
lainnya yang lebih rendah. Oleh karena itu, penerapan akan
berdasarkan pada pemahaman tentang metoda, prinsip, teori, atau
abstraksi.
-
4. Analisis Dalam analisis penekanannya pada kemampuan merinci sesuatu ke
dalam bagian-bagian, mendeteksi hubungan antara bagian-bagian
tersebut dan mendeteksi dengan cara apa bagian-bagian tersebut
diatur.
4.10. Analisis tentang elemen-elemen4.20. Analisis tentang hubungan-hubungan

4.30. Analisis tentang prinsip-prinsip pengaturan

5. Sintesis Sintesis disini adalah memasang elemen-elemen dan bagian-bagian
sehingga membentuk suatu keseluruhan.
5.10. Produksi komunikasi yang unik5.20. Produksi perencanaan

5.30. Penurunan dari sekumpulan hubungan yang abstrak

6. Evaluasi Didefinisikan sebagai membuat keputusan atau pertimbangan
tentang nilai suatu ide, kerja, solusi, metoda dan sebagainya.Evaluasi ditempatkan pada bagian akhir klasifikasi karena untuk
melakukannya melibatkan pengetahuan, pemahaman, penerapan,
analisis, serta seintesis.
6.10. Penilaian dengan bukti-bukti internal6.20. Penilaian dengan kriteria-kriteria eksternal

Referensi

Bloom B. S., Engelhart, M.D., Furst, E.J., Hill, W.H., & Krathwohl, D.R (1956). Taxonomy of Educational Objectives, Handbook I: The Cognitive Domain. New York: David McKay Co Inc. File PDF tersedia pada http://ebookee.org/Taxonomy-of-Educational-Objectives-Handbook-1-Cognitive-Domain_462372.html

Taksonomi Domain Belajar

Dalam menyiapkan pembelajaran, menentukan tujuan instruksional umum (goal) merupakan hal utama yang harus disiapkan sebelum membuat isi (content) (Sudol, 2004; Brissenden et. al., 2001). Dari tujuan intruksional umum (TIU) tersebut kemudian diterjemahkan menjadi tujuan instruksional khusus (TIK) yang capaiannya dapat diukur. Tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus tersebut secara umum dapat dirumuskan dengan menggunakan suatu taksonomi ranah belajar. Dengan menggunakan taksonomi tersebut maka suatu tingkat kemahiran yang akan dicapai dalam suatu pembelajaran dapat dibedakan dengan suatu tingkat kemahiran yang lainnya dalam suatu ranah tertentu.

Bloom menyatakan bahwa terdapat tiga ranah (domain) aktifitas belajar yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif meliputi pengetahuan dan kemampuan pengembangan intelektual. Ranah afektif meliputi hal-hal yang berurusan dengan perasaan, nilai, apresiasi, antusiasme, motivasi, dan sikap. Ranah psikomotorik meliputi gerakan fisik, koordinasi, dan area kemampuan motorik lainnya (lihat Clark, D. R., 2004).

Berkaitan dengan ketiga ranah tersebut di atas maka terdapat tiga taksonomi yang masing-masing dibuat dengan kriteria yang paling mudah sampai ke yang paling sulit. Bloom beserta koleganya merencanakan membuat taksonomi yang lengkap mencakup ketiga ranah tersebut (Bloom et. al., 1956, hal. 7). Namun mereka pada akhirnya hanya menyelesaikan dua dari tiga taksonomi tersebut yaitu taksonomi ranah kognitif (lihat Bloom, B.S., et. al., 1956) dan taksonomi ranah afektif (lihat Krathwohl, D.R., et. al., 1964). Adapun untuk taksonomi ranah psikomotorik terdapat beberapa versi diantarnya yang terkenal adalah versi Harrow, versi Dave, dan versi Simpson (lihat Clark, D. R., 2004).

Untuk melihat taksonomi ketiga ranah (domain) belajar tersebut lihat link di bawah.

1.  Taksonomi Ranah Kognitif;

2.  Taksonomi Ranah Afektif;

3.  Taksonomi Ranah Psikomotorik.



Referensi:

Bloom B. S., Engelhart, M.D., Furst, E.J., Hill, W.H., & Krathwohl, D.R (1956). Taxonomy of Educational Objectives, Handbook I: The Cognitive Domain. New York: David McKay Co Inc. File PDF tersedia pada http://ebookee.org/Taxonomy-of-Educational-Objectives-Handbook-1-Cognitive-Domain_462372.html

Brissenden, G., Slater, T.F., Mathieu, R.D. (2001). The Role of Assessment in the Development of the College Introductory Astronomy Course: A “How-to” Guide for Instructors. Astronomy Education Review. Vol 1. Hal 1-24. Diperoleh tanggal 9 Mei 2011 pada http://aer.aas.org/resource/1/aerscz/v1/i1/p1_s1

Clark, D. R. (2004), Bloom’s Taxonomy of Learning Domains. Diperoleh tanggal 9 Mei 2011 pada http://www.nwlink.com/~donclark/hrd/bloom.html

Krathwohl, D.R., Bloom, B.S., & Masia, B.B. (1964). Taxonomy of Educational Objectives, The Classification Of Educational Goals. Handbook II: Affective Domain. New York: David Mc Kay Company, Inc. File PDF tersedia pada http://ebookee.org/Taxonomy-of-Educational-Objectives-Handbook-II-Affective-Domain_462371.html

Sudol, J.J. (2004). Is Content All That Important?. Astronomy Education Review. Vol 2. Diperoleh tanggal 9 Mei 2011 pada http://aer.aas.org/resource/1/aerscz/v2/i2/p186_s1


Observatorium di Thailand

Taman Nasional Doi Inthanon terletak di pegunungan tinggi yaitu 2.565 meter di atas permukaan laut dan merupakan puncak pegunungan tertinggi di Thailand. Doi Inthanon adalah sumber dari banyak sungai termasuk Mae Klang, Mae Pakong, Mae Pon, Mae Hoi, Mae Ya, Mae Chaem, Mae Khan, dan menjadi bagian dari Sungai Ping, di mana Dam Bhumipol terletak dan menghasilkan pembangkit listrik.

Karena Taman Nasional Doi Inthanon ini terletak 2.565 meter di atas permukaan laut, maka taman tersebut memiliki iklim yang dingin serta kelembaban yang tinggi sepanjang tahun terutama pada bagian atasnya. Di musim dingin, suhu di Taman Nasional mencapai di bawah 0 derajat celcius. Dan di musim panas, walaupun di pusat Chiang Mai dan daerah di dekatnya terasa panas, di Doi Inthanon bagian atas masih tetap terasa dingin dan wisatawan yang berkunjung ke sana harus siap dengan pakaian tebal.

Hutan di sana merupakan salah satu warisan berharga bagi Thailand. Flora yang tumbuh di sana diantaranya adalah pinus, bunga anggrek Vanda, Phycastylis dan Rhododendron, serta pakis Osmanda. Sedangkan fauna yang masih hidup di sana diantaranya adalah ular, siamang, harimau, rusa, babi hutan, kelinci Siam, unggas Red Jungle serta 362 spesies burung.

Di Taman Nasional Doi Inthanon tersebut juga terdapat sebuah observatorium astronomi yang mulai dibangun tahun 2006 dan diharapkan akan selesai tahun 2011. Karena terletak di ketinggian 2.457 meter di atas permukaan laut, observatorium ini sangat mendukung untuk penelitian lanjut di bidang astronomi dan astrofisika. Observatorium tersebut dilengkapi dengan teleskop reflektor 2.4 meter dan merupakan observatorium planet terbesar di Thailand. Setelah selesai dibangun, observatorium ini diharapkan dapat memainkan peran penting dalam mendukung penelitian mutakhir serta kolaborasi internasional.

Pendirian observatorium di Doi Inthanon tersebut tidak lepas dari peran pemerintah Thailand. Perhatian pemerintah Thailand terhadap astronomi tidak terlepas dari sejarah masa lalunya. Beberapa raja Thailand yang bertahta pada masa yang lalu tercatat memiliki kegemaran/ketertarikan pada dunia astronomi.

Sekitar 300 tahun yang lalu, di Lopburi dan Ayudhaya, beberapa observatorium telah dirancang dan dikonstruksi dengan dukungan dari misionaris Katholik Roma serta Raja Agung Siam (Thailand) Narai.

Pada saat misionaris Katolik Roma pertama kali datang ke Thailand, disamping menyebarkan agama Katolik mereka juga membawa penelitian mengenai pemetaan lokal serta posisi benda-benda langit. Ketertarikan Raja Narai terhadap astronomi dapat dilihat dari rekaman sejarah Thailand dimana dia, bersama para misionaris, pada 11 Desember 1685 pernah mengamati gerhana matahari di Lopburi melalui sebuah teleskop yang memiliki pembesaran 30 sampai 70.

Raja lain yang memiliki kertarikan terhadap astronomi adalah Raja Rama IV dari dinasti Charki. Pada 18 Agustus 1864, Raja Rama IV menghitung secara cermat serta memprediksi gerhana matahari total. Raja bersama-sama dengan rakyat Thailand, Perancis, dan Inggris menjadi saksimata terjadinya gerhana matahari tersebut di Wakor Prachuabkhirikhan.

Sampai sekarang tidak diketahui metoda apa yang digunakan oleh Raja Rama IV untuk memrediksi gerhana matahari total yang terjadi tersebut. Namun untuk menghargai dan menghormati Raja Rama IV tersebut maka ia dinobatkan sebagai Bapak Sains Thailand (The Father of Thai Science). Dan tanggal 18 Agustus, pada saat terjadinya gerhana matahari total yang diperkirakan oleh Raja Rama IV, dijadikan sebagai Hari Sains Thailand (the Thai Science Day).

Tampaknya latar belakang sejarah tersebut di atas dimana raja-raja Thailand memiliki ketertarikan terhadap astronomi menjadikan pemerintah Thailand pada saat ini juga mendukung proyek-proyek yang berkaitan dengan astronomi, seperti pendirian observatorium di Doi Inthanon di atas.

Observatorium Doi Inthanon bukan merupakan observatorium satu-satunya di Thailand. Salah satu yang lain adalah observatorium yang terletak di gunung Doi Suthep. Universitas Chiang Mai mengoperasikan sebuah observatorium yang terletak sekitar 12 km dari kampus di gunung Doi Suthep dan yang dilengkapi dengan teleskop Cassegrain 16 inchi. Observatorium tersebut dibangun tahun 1977 dan saat ini dijalankan oleh enam orang staf departemen fisika.

Disamping observatorium, di Thailand terdapat juga planetarium. Planetarium Bangkok adalah salah satunya. Planetarium yang terletak di Sukhumvit Road Bangkok tersebut merupakan planetarium paling tua di Thailand. Planetarium tersebut dioperasikan oleh Departemen Pendidikan non-formal, Menteri Pendidikan Thailand. Konstruksi planetarium tersebut dimulai pada tahun 1962 dan kemudian dibuka pada tanggan 18 Agustus 1964. Diameter dome platenetarium tersebut adalah 20,60 meter, dengan tinggi 13 meter, dengan 450 tempat duduk. Planetarium tersebut menggunakan proyektor Zeiss Mark IV.

Membicarakan astronomi di Thailand tampaknya tidak akan lengkap tanpa membicarakan sebuah organisasi yang bernama NARIT. NARIT merupakan kependekan National Astronomical Research Institute in Thailand yang didirikan oleh pemerintah Thailand pada tahun 2004 di bawah Kementrian Sains dan Teknologi Thailand. NARIT tidak hanya mengembangkan penelitian tapi juga pendidikan astronomi di Thailand, dari level sekolah sampai penelitian-penelitian tingkat lanjut. Observatorium Doi Inthanon merupakan salah satu fasilitas utama yang dimiliki oleh NARIT.

Peran NARIT dalam pendidikan astronomi di Thailand adalah:

  • terlibat dalam membuat keputusan mengenai pendidikan astronomi dari pendidikan di sekolah-sekolah;

  • menjalakan program-program untuk mempromosikan astronomi, diantaranya Eksibisi astronomi;

  • menyelenggarakan eksibisi bergerak yang memuat poster-poster, model-model astronomi, teleskop-teleskop dan sebagainya bagi sekolah-sekolah di Thailand;

  • menyediakan media daring dan pembelajaran elektronik;

  • menerbitkan media dan press diantaranya siaran radio dan artikel-artikel majalah.

Thailand merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang pemerintahnya memiliki perhatian terhadap astronomi. Hal tersebut dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Thailand dengan mendirikan observatorium, planetarium, serta organisasi seperti NARIT. Thailand juga telah merencanakan mendirikan sebuah komisi nasional dalam penelitian dan aplikasi teknologi ruang angkasa serta pembangunan infrastruktur teknologi ruang angkasa diantaranya peluncuran satelit VINSAT.


Image:

http://www.pbase.com/bmcmorrow/doiinthanon&page=11
http://www.unseenthailand.org/wp-content/uploads/2010/05/Doi-Inthanon-National-Park.jpg

November 2011: Asteroid itu mendekati bumi!

Diperkirakan pada tanggal 8-9 November 2011, sebuah asteroid dengan lebar 400 meter akan melayang mendekati bumi.  Dia adalah asteroid 2005 YU55.  Asteroid tersebut merupakan asteroid terbesar yang teridentifikasi akan mendekat paling tidak sampai tahun 2028 mendatang.

Jarak terdekat yang akan dicapai oleh asteroid tersebut adalah 325.000 kilometer dari bumi.  Sumber dari NASA mengatakan bahwa mendekatnya asteroid tersebut tidak akan mengancam bumi.  Gaya gravitasi yang akan ditimbulkan oleh asteroid tersebut terhadap bumi sangat kecil sehingga tidak akan mempengaruhi pasang-surut laut.

Animasi lintasan asteroid 2005 YU55 - November 8-9, 2011 (klik pada gambar untuk animasi). Kredit: NASA/JPL-Caltech dalam (*

Asteroid 2005 YU55 ini pertama kali di temukan oleh Robert McMillan, Universitas Arizona,  pada bulan Desember 2005.  Pada bulan April 2010, Mike Nolan beserta koleganya di Observatorium Arecibo, Puerto Rico, mengambil gambar asteroid 2005 YU55 ini dengan menggunakan radar.  Pada bulan April 2010 tersebut, asteroid 2005 YU55  masih berjarak 2,3 juta kilometer dari bumi.

Asteroid 2005 YU55 yang diambil menggunakan teleskop radar pada bulan April 2010. Kredit: NASA/Cornell/Arecibo dalam (*