Keindahan: susunan simetris dan warna-warni

2014-05-11 14.24.31

 

Belajar bisa memanfaatkan lingkungan sekitar.  Dengan mengumpulkan berbagai macam bunga dan daun,  kami belajar tentang warna dan pola.  Tadinya kami berharap,  susunan yang simetris dari apa yang kami kumpulkan akan menghasilkan  keindahan.   Saya membiarkan anak-anak menyususunnya sendiri, beginilah hasilnya …..

2014-05-11 14.24.55

 

2014-05-11 14.29.09

Sedekah

Oleh:  Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qalyubi

 

Dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji,Abdullah bin Mubarak singgah di kota Kufah.  Di kota itu beliau melihat seorang wanita sedang mencabuti bulu itik ditempat sampah.

Dalam hati, beliau merasa bahwa itik itu adalah bangkai.

Lantas beliau bertanya kepada wanita itu, “ Itik itu bangkai atau sudah disembelih?”

Wanita itu menjawab, “Bangkai, yang akan saya makan bersama keluarga.”

Beliau berkata pula, “Bukankah Nabi SAW telah mengharamkan daging bangkai?”

Wanita itu membentak, “Sudah, pergilah kau dari sini!”

Abdullah tetap menanyainya, hinga akkhirnya wanita itu membuka rahasianya.

Ia mengatakan, “Saya mempunyai putera yang masih kecil-kecil, sudah tiga hari mereka tidak makan, sehingga saya terpaksa member mereka daging bangkai ini.”

Mendengar jawaban sedih wanita itu, Abdullah bin Mubaraksegera pergi kembali mengambil makanan dan pakaian, yang diangkut dengan keledainya.  Kemudian beliau kembali ketempat tinggal wanita itu.

Setelahbertemu muka, beliau berkata, “Ini uang, pakaian dan makanan.  Ambilah berikut keledai dan segala yang ada padanya!”

Kemudian beliau tinggal di kota itu karena waktu haji telah lewat.

Akhirnya ketika orang-orang yang telah menunaikan haji pulang kembali ke negeri mereka, maka Abdullah pulang juga bersama mereka.

Setelah tiba di kotanya, orang –orang datang kepada beliau sambil mengucapkan selamat karena telah menunaikan ibadah haji.

Tetap beliau menjawab, “Tahun ini saya tidak jadi naik haji.”

Seseorang menegurnya, ”Subhanallah, bukankah saya telah menitipkan uang saya kepada anda, lalu saya ambil kembali di Arafat?”

Yang lain berkata, “Bukankah anda telah memberi saya minum di tempat anu dulu?”

Dan yang lain berkata pula, “Bukankah anda telah membelikan ini dan itu?”

Abdullah menjawab, “Saya tidak mengerti apa yang kalian katakan, sebab saya tidak jadi naik haji pada tahun ini.”

Pada malam harinya, dikala tidaur, beliau bermimpi mendengar suara gaib yang mengatakan, “Hai Abdullah, sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu dan telah mengutus seorang malaikat menyerupai dirimu untuk melaksanakan ibadah haji sebagai ganti dirimu!”

 


Diketik ulang dari buku terjemahan:

An Nawadir karyaAhmad Syihabuddin bin Salamah Al Qalyubi

Penterjemah Idrus Alkaf, Penerbit Al Bayan 1990, “Membuka Pintu Langit,  Anekdot Sufi”

2014-05-07 18.09.31

 


 

Two Old Men: Hembusan Sufistik Leo Tolstoy

Perjalanan Abdullah bin Mubarak ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, mengingatkan saya pada sebuah karya sastra yang ditulis oleh Leo Tolstoy berjudul Two Old Men.  Karya itu terdiri dari 12 bagian yang menceritakan perjalanan dua orang lelaki tua pergi berziarah ke Yerussalem.  

Leo Tolstoy

Leo Tolstoy

 

Beginilah ringkasannya.

 

Dua orang lelaki yang sudah lanjut usia, Efim dan Elisha, hidup bertetangga di sebuah desa di Rusia.  Efim termasuk orang kaya dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun begitu, Efim tidak pernah minum alcohol, merokok,dan selalu bertutur kata dengan baik.  Sedangkan Elisha adalah pemelihara lebah yang tidak kaya juga tidak miskin.  Elisha orangnya ramah, baik terhadap tetangga.

Pada suatu waktu, Efim dan Elisha memutuskan untuk pergi berziarah ke Yerussalem (Palestina).  Sebetulnya, niat untuk pergi bersama keYerussalem sudah mereka miliki sejak lama namun sulit mereka laksanakan karena kesibukan masing-masing.  Kin, perjalanan pun dimulai.

Untuk sampai ke Yerussalem, mereka harus berjalan kaki berbulan-bulan dan kemudian harus menyeberangi laut dengan menggunakan perahu.  Dalam perjalanan kakinya, mereka menemukan daerah dengan karakter yang berbeda.  Terkadang di suatu daerah, mereka harus banyak mengeluarkan uang untuk membeli makanan, sementara di daerah lain mereka dijamu bagai tamu.

Sampai suatu ketika, di suatu jalan desa, mereka harus berpisah. Elisha kelelahan dan kehausan, sementara Efim tidak mau berhenti.  Pergilah Efim melanjutkan perjalanan, sementara Elsiha pergi ke suatu rumah, di desa itu, untuk meminta air minum dan berjanji akan menyusul Efim.

Rumah yang dituju Elisha tampak sepi bagai tak berpenghuni. Alih-alih mendapatkan pertolongan Elisha malah menemukan seorang wanita tua, seorang lelaki,dan dua anak-anak yang hampir mati karena kelaparan.  Kebaikan yang dimiliki Elisha menuntun Elisha untuk menolong mereka.  Berhari-hari Elisha di rumah itu, menolong dan memulihkan mereka dari ketidakberdayaan.  Sebagian uang bekal ziarahnya telah ia habiskan untuk membelikan makanan, membelikan kuda, membelikan apa-apa yang diperlukan keluarga itu untuk terus bangkit dan meneruskan hidup.  Ketika keluarga itu sudah kuat, Elisha pergi diam-diam.

Tadinya Elisha akan menyusul Efim,  namun karena bekal uangnya hampir habis makaia memutuskan untuk pulang ke rumah menemui istri dan anak-anaknya.  Elisha tidak menceritakan tentang keluarga yang kelaparan itu, kepada penduduk desa ia hanya mengatakan bahwa bekalnya habis diperjalanan.

 

Apa yang terjadi dengan Efim?

Efim sampai di Yerussalem, berkeliling ke Bethlehem, Bethany, dan Jordan.  Di sana dia berkali-kali melihat teman seperjalanannya, Elisha.  Berkali-kali pula Ia berusaha  mendekati Elisha dan menanyakan bagaimana Elisha bisa sampai ke Yerussalem, namun usahanya itu selalu gagal karena Elisha sekonyong-konyong lenyap dikeramaian.  Sekitar enam minggu Efim berada di Yerussalem, uangnya habis dan hanya tersisa untuk bekal pulang.  Dia berjalan ke Jaffa, kemudian berlayar ke Odessa, dan dari sana berjalan kaki kembali kerumah.

Efim mengambil jalan yang sama dengan saat ia pergi.  Di desa dimana ia berpisah dengan Elisha, Efim memutuskan untuk mengunjungi ruamh yang dituju oleh sahabatnya waktu itu.  Di rumah itu, Efim disambut dengan hangat oleh tuan rumah. Tuan rumah memberinya makanan, minuman, dan ditawari untuk menginap dirumah itu.  Tuan rumah bercerita bahwa mereka dulu hamper mati kelaparan namun kemudian ditolong oleh seorang leleki tua sehingga dapat bangkit lagi hingga sekarang.  Tuang rumah juga menceritakan cirri-ciri orang tua yang pernah menolongnya, dan Efim tahu bahwa yang mereka ceritakan tidak lain adalah sahabatnya, Elisha.

Pulanglah Efim dengan segala pertanyaan tentang Elisha.  Sesampainya di desa, penduduk desa menyalaminya.  Dari penduduk desa, Efim tahu bahwa Elisha sudah lama pulang dan tidak pernah sampai ke Yerussalem.  Efim kemudian mengunjungi sahabatnya, Elisha, namun ia tidak menceritakan bahwa ia melihat Elisha diYerussalem dan juga tidak menceritakan keluarga miskin di desa tempat merekaberpisah itu.  Efim kini menyadari sesuatu.

Pohon yang menakjubkan!

Takjub: pada dasarnya, bumi adalah tempat yg menyokong kehidupan. Biji yg lemah diubah menjadi buah yg manis atau pedas.

 

Bacalah Buku!

“Setiap pemimpin dunia harus baca buku ini” begitulah kira-kira kata Hugo Rafael Chávez, presiden Venezuela saat itu, ketika berkesempatan berbicara di PBB. Buku yg dimaksud adalah “Hegemony or Survival” yang mengupas politik luar negeri Amerika ditulis oleh Noam Chomsky. Noam Chomsky adalah profesor MIT bidang linguistik. Selain buku itu, dia juga menulis “Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media”.

Seandainya masih hidup, Saya yakin tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka dll. akan segera membaca buku itu tanpa disuruh. Mereka tidak sekedar pelaku politik tapi juga pembaca buku dan bahkan penulis buku. Dalam bukunya, Madilog, Tan Malaka menceritakan bagaimana dia lebih baik membeli buku dari pada membeli pakaian baru bahkan sekalipun hal itu harus mengurangi jatah makan harian.

Buku adalah kubu, begitu kata Jehan sang pelukis. Lantas …. berapa banyak  kita sekarang yang senang membaca buku? Berapa banyak yang menulis buku?

Kembali ke Chomsky, jujur saja, saya juga belum pernah membaca kedua buku karyanya …

Mengejar Kematian

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam”.
(QS. Ali Imran : 102)

 

Ada tujuh kebiasaan orang-orang yang efektif kata Stephen R. Covey dalam bukunya, The Seven Habits of Highly Effective PeopleSalah satunya adalah: “Begin with the End in Mind”. Kalau pernyataan itu kita kaitkan dengan konteks kehidupan, apa jadinya? Apa akhir dari kehidupan? Kematian! Bagaimana memulai dengan kematian??

Kematian adalah seperti gunting yang memotong kehidupan kita beserta kesenangan-kesenangan yang ada di dalamnya, setidaknya itu yang ada dalam benak saya. Gunting itu datang secara tiba-tiba di luar kemauan. Bagaimana memulai dari kematian?

Mungkin filsafat Kematian Heidegger jawabannya. Martin Heidegger adalah filosof fenomenologi dari Jerman. Katanya, kita harus mencita-citakan kematian. Kematian yang kita cita-citakan itu akan mewarnai kehidupan kita. Jika kita menginginkan mati sebagai pencinta keluarga maka kehidupan seharusnya kita arahkan untuk mendukung hal itu. Jika kita ingin mati sebagai orang yang pasrah, maka kehidupan yang kita jalani seharusnya kita arahkan untuk mendukung itu. Sehingga, kematian, yang walaupun datang secara tiba-tiba, dapat kita kendalikan. Kematian tidak sekedar berupa gunting yang kita tunggu dengan rasa cemas yang dengannya kita melarikan diri dan melupakannya. Namun, kematian adalah sesuatu yang kita kejar dan kita inginkan dengan bukti yang kita tunjukan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Eridu: Kota Dewa Bumi

Ada kemiripan, “Bumi” ditulis dalam beberapa bahasa:

Earth (Inggris),

Erde (Jerman),

Aarde (Belanda),

Ardh (Arab).

 

Menarik lagi jika kita melihat peninggalan peradaban paling tua di Sumeria.   Pada 5400 SM, berdirilah sebuah kota di Sumeria. Kota itu didirikan oleh seseorang yg bernama Enki.  Bagi masyarakat di sana saat itu, Enki adalah dewa, tepatnya dewa Bumi.  Sedangkan kota yang didirikannya itu bernama ERIDU yg berarti tempat tinggal Enki, sang Dewa BumiKota Eridu sekarang berada di sekitar Abu Shahrein, Irak.

 

Bangsa Sumeria itu sebagian adalah bangsa Semit.  Sedangkan bahasa yang tergolong dalam bahasa semit saat ini adalah bahasa Arab dan bahasa Yahudi.  Jadi mungkin kata Earth (Inggris), Erde (Jerman), Aarde (Belanda) itu berasal dari kata Ardh (Arab) dari kata Eridu itu.  :)

 

 

 

Indonesian Idol

Suatu ketika di awal tahun 2000 an, saya pernah ikut pengajian di Garut.  Pengajian tersebut diselenggarakan oleh PSII:  Partai Syarikat Islam Indonesia.   Peserta pengajian kebanyakan adalah orang-orang yang sudah sepuh, sekarang mungkin sebagian sudah meninggal karena usia.   Walaupun usianya sudah lanjut, mereka adalah sisa-sisa dari kader partai yang militan, menurut saya.  Walaupun mereka adalah orang Garut, namun pimpinan partai yang mereka idolakan adalah H.O.S. Tjokro Aminoto dari Jawa Timur.  Tidak masalah, karena   tampaknya mereka memihak karena alasan ideology, bukan kedaerahan atau alasan-alasan lain.  Salah satu buku yang ditulis oleh Tjokro Aminoto adalah “Islam dan Sosialisme”.  Pada buku itu, Tjokro Aminoto mengungkapkan bahwa ide ide mengenai sosialisme juga terdapat dalam ajaran Islam.

Alasan ideology juga yang menyebabkan Kartosoewirjo memiliki banyak pengikut di Jawa Barat.  Padahal Kartosoewirjo pun adalah orang Jawa Timur.   Itu terbukti dengan gerakan DI/TII yang muncul di Jawa Barat, saat agresi militer Belanda yang menyebabkan Soekarno memindahkan wilayah kekuasaannya ke Yogyakarta.   Pada saat itu di Jawa Barat, Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia.  Proklamasi itu diikuti oleh Daud Beurueh yang menyatakan Aceh sebagai Negara islam di bawah pimpinan Kartosoewirjo.  Namun kemudian di Jawa Barat, Gerakan DI/TII dapat dilumpuhkan bersamaan dengan tertangkapnya Kartosoewirjo.

Tjokro Amonoto dan Kartosoewirjo adalah tokoh yang menggerakan masyarakat dengan ideology berbasis agama.  Di samping kirinya ada tokoh lain yang juga menggerakan masyarakat: Tan Malaka.  Tan Malaka adalah orang Minang.  Tapi tidak seperti tokoh dari minang lainnya seperti H. Agus Salim, Moh Hata, atau Buya Hamka; Tan Malaka termasuk berpaham kiri.  Tan Malaka berpaham komunis,  bahkan termasuk salah satu  anggota Komintern, komunis internasional.  Pikirannya yang tertuang  dalam buku yang ditulis selama di penjara, ” MADILOG”, jelas-jelas menunjukkan ideology apa yang dia pegang.  Menurut saya, karena puluhan tahun dikejar-kejar oleh Belanda menyebabkan ia malang melintang di luar negeri sehingga tidak sempat membentuk kader yang solid di Indonseia.  Walaupun PKI sudah berdiri di Indonesia, namun tampaknya pikirannya tidak sejalan dengan Muso ataupun Alimin.  Tan Malaka tidak setuju dengan gerakan konfrontasi di Madiun yang digagas oleh tokoh-tokoh komunis saat itu.  Puluhan tahun melarikan diri ke luar negeri dari kejaran Belanda dan Jepang, akhirnya Tan Malaka terbunuh oleh bangsanya sendiri di jaman pemerintahan Soekarno, namun oleh Soekarno, Tan Malaka ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 28 Maret 1963, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 53 Tahun 1963.

Soekarno?  Siapa yang tidak kenal dengan tokoh ini?  Soekarno adalah mantu dari Tjokro Aminoto.  Sebelum menikahi Inggit Ginarsih di Bandung,  Soekarno menikahi Utari putri Tjokro Aminoto.  Di buku “Kuantar Ke Gerbang ”  diceritakan bagaimana Soekarno mengembalikan Utari ke Ayahnya.  Di Bandung, Soekarno kuliah di ITB.  Selama kuliah di Teknik Sipil, Soekarno tidak menghentikan aktifitas politiknya.  Bukan saja suaranya yang menggema, namun secara fisik Soekarno pun sering bepergian.  Banyak jejak-jajak Soekarno tersebar di wilayah Indonesia.  Di Bengkulu  terdapat sebuah penjara Soekarno di bawah benteng yang mengahadap laut  dan tentu saja di Bengkulu ini terdapat  bekas kediaman Soekarno karena Fatmawati juga berasal dari Bengkulu.  Di Palangkaraya, terdapat tempat pendaratan Soekarno.  Di Gorontalo, terdapat pendaratan Soekarno yang sekarang di jadikan Museum Soekarno yang terletak di bibir danau Limbotu.

Tokoh Soekarno juga terkenal di dunia supra natural.  Terkadang saya heran juga  dengan hal itu.  Sekarang kan ada istilah uang Soekarno, harta karun Soekarno yang semuanya berkaitan dengan dunia mistik.   Bahkan tadi malam, ketika saat nonton acara Indonesian Idol yang ditayangkan RCTI, ada seorang peserta yang katanya dia ikut Indonesian Idol karena termotivasi mimpi. Dia bermimpi bertemu dengan Soekarno.  Di mimpi itu dia diberi tongkat oleh Soekarno, dan ketika menengok ke belakang, dalam mimpi itu, dia melihat sebuah spanduk bertuliskan “Indonesian Idol”.  Anda percaya? Jadi sebetulnya siapa Indonesian Idol itu?

Acara TV “Indonesian Idol”  itu menarik saya untuk menonton TV, sebagai hiburan saja, tanpa prasangka ideologis.  Jenuh juga menyaksikan banyak siaran yang membuat sesak dada.

Salah satu peserta yang menarik saya adalah Deris.  Namanya sih Riska Afrilia.  Dia terampil memainkan  gitar, dengan grip berdiri.  Menyanyikan lagu yang diciptakan sendiri.  Harmonis!   Aha … ternyata dia berasal dari Garut juga.  Maju terus De,  tetaplah low profile dan jangan sombong.   Nanti kalau sudah berhasil jangan terjun kedunia politik.  Jangan seperti yang sebelumnya, menjadi anggota DPR!

 

Tampilannya saat audisi: http://www.youtube.com/watch?v=wXqz4fDZtFY

Keabadian

never yet i found the women

from which i wanted children,

unless it be this women whom i love:

for i love you, O eternity.

For i love you, O eternity!”

(Nietzsche: also sprach Zarathustra)

Mungkin yang kumaksud dengan keabadian ini berbeda dengan yang disadari oleh Nietzsche. Sejujurnya, aku tidak terlalu paham dengan keabadian yang dimaksudnya. Seperti halnya aku juga tidak memahami konsep dia tentang “kembalinya segala sesuatu” itu.

Keabadian yang kumaksud juga bukanlah reinkarnasi seperti yang dipahami oleh orang-orang budha. Sampai saat ini aku memilih untuk tidak percaya reinkarnasi.

Jika aku “mati”, boleh jadi wujud fisikku terurai menjadi unsur maupun senyawa kimia yang kemudian tercerai-berai dalam perut bumi. Namun tidak dengan “keakuanku”. Aku dengan keakuanku yang sadar tetap hidup. Hidup terus tanpa batas waktu dengan pengalaman-pengalaman yang baru. Abadi!

Jika kuburanku berdampingan dengan kuburanmu, bisa jadi juga uraian tubuh kita bersatu membentuk senyawa tertentu. Tapi tetap: aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Masing-masing “keakuan” kita berdiri terpisah. Kita akan terus hidup dengan keakuan masing-masing, dengan kesadaran masing-masing, dan dengan pengalaman masing-masing. Masing-masing kita abadi!

-()-

July 7, 2009 at 12:04am

 

Pertemuan dengan siapa

PENGANTAR:
Saya harus menyelesaikan program delphi saya, tapi hampir berjam-jam mandeg, tak ada kemajuan tentunya. Akhirnya kepanikan pikiran ini saya coba salurkan lewat tulisan di bawah. Mungkin satu-satu harus dikeluarkan dan tidak perlu memenuhi aturan FIFO karena otak saya, yang saya yakini, bukanlah semata-mata gerbang logika!

ISI:
Jujur saja, bahkan untuk tontonan kocak di tv-tv sekalipun, jarang yang bisa membuat saya tertawa ngakak. Terkadang melihat tontonan seperti itu seperti melihat film-film horor yang bersimbah darah, menjijikan! Ada beberapa teman yang jika kami berkumpul sanggup membuat saya terbahak-bahak, untuk itu saya berhutang budi pada mereka, jika saya tidak dapat membalas kebaikan budi mereka, semoga tuhan membalas kebaikan budi mereka. Tapi itu tidak berarti bahwa selera humor saya rendah, saya hanya menganggap banyak hal tidak perlu ditertawakan secara terbahak-bahak. Jika bisa diselesaikan dengan tersenyum, maka mengapa harus tertawa.

Sore itu yang cerah, di saat saya pulang kerja, seingat saya tidak ada pekerjaan yang dikerjakan jadi tepatnya pulang ngantor, saya ada janjian ketemu teman lama (sebetulnya juga saya lebih suka menyebut teman tanpa embel-embel lama). Pertemuan itu di laksanakan di sekretariat almuni ITB di jalam Cimanuk Bandung, pada jam saya pulang ngantor tadi.

Seperti halnya berpuluh pertemuan lainnya yang pernah saya lalui, maka pertemuan kali ini pun selalu dilengkapi oleh secangkir kopi. Tidak ada agenda pembicaraan yang pasti, kalau pembicaraan itu kasat mata maka kita bisa melihat pembicaraan kami bergerak ke utara dan ke selatan (ngalor-ngidul gitu maksudnya). Di tempat itu, bila secangkir kopi habis, dengan mengacungkan jari secangkir lain yang belum habis lagian masih panas akan datang. Begitulah ….. cara kami bertiga menghabiskan waktu dan kopi tentunya di tempat itu, di sekretariat alumni ITB, dengan tanpa pembicaraan politik.

Menjelang maghrib, datang ke tempat pertemuan kami laksanakan seseorang yang memakai topi, bercelana tentunya walaupun tidak panjang sampai mata kaki dan membawa gitar. Setelah bersalaman ia ikut duduk di majelis yang sedang kami laksanakan. Tampaknya ia orang yang sering berada dalam majelis-majelis karena ia merasa tidak asing dengan orang asing yang baru dikenalnya, bebas. Sesaat ia mendominasi pembicaraan, tapi walaupun begitu saya merasa senang. Saat dia bicara maka seringkali saya tertawa!

Ia berceloteh bahwa mencari uang itu mudah. Ia bercerita tentang kesuksesannya menulis buku Drunken Monster yang laris manis juga tentang Drunken Mama. Saat itu saya belum tahu ada buku seperti itu, setelah gooooogling saya membaca resensinya. Tapi saya belum membelinya. Ia bercerita tentang ide-ide cerita diambil dari kejadian sehari-hari yang ia temui. Proses kreatif yang saya lihat tersalurkan dan menghasilkan uang. Saya belum tahu apakah ia menulis itu karena semata-mata untuk menulis atau untuk mencari uang. Biarlah masalah itu didebatkan oleh Tagore dan Toynbe. Lagian persetan …. jaman sekarang untuk menyelamatkan nyawa manusia saja harus keluar uang jutaan. Rumah sakit dikelola secara profesional itu artinya tidak ada pengobatan yang gratis! Jika seseorang meninggal selama ditangani rumah sakit, maka pihak rumah sakit akan berkata kami sudah berusaha tapi tuhan menentukan lain, dan tentu kita harus tetap membayar seolah-olah pulang dengan kembali sehat.

Pada saat tertentu teman yang baru ketemu seumur hidup saya itu mengeluarkan gitarnya, dan memainkannya tentunya. Tadinya, dengan melihat tampilannya, saya menyangka ia akan mengalunkan lagu-lagu yang lagi ngetren saat ini atau lagu-lagu nostalgia yang ia sukai. Tapi ia malah menyanyikan lagu tentang cicha dan anjing kecilnya, tentang apa jadinya dunia tanpa nia, tentang kerinduannya pada upacara bendera, tentang kecurigaan ia mengenai hubungan batman dan robin yang selalu berdua tanpa pernah kawin. Sekali-kali ia menerangkan latar belakang terciptanya lagu-lagu itu. Ia juga bercerita tentang grup band THEPANASDALAM yang diproklamasikan di ITB yang sampai saat ini menolak untuk tampil di tv-tv. Saya pikir kalau mereka muncul maka lagu-lagunya akan lebih kocak dari KUBURAN atau SEURIUS yang terkubur itu.

Waktu tidak mengalir, tapi saat nya harus pamitan karena pada waktu itu saya harus mempersiapkan diri ke surabaya. Saya pulang sementera ia dan teman-teman saya yang lain masih di sana. Tahu sendirikan, saya tidak bisa menceritakan kejadian selanjutnya.

KESIMPULAN:
Yah … kesimpulannya tidak ada karena tulisan ini bukan skripsi!

 

September 29, 2009 at 6:41pm

Sinkronisasi Waktu

Jam dinding di ruangan saya menunjukkan jam 15.10. Sementara jam di komputer saya menunjukkan jam 3.00. Di HP saya menunjukkan jam 15.05. Mana yang bener???

Dulu saya suka mencocokkan jam dengan siaran berita TVRI yang disiarkan tiap jam 21.00.   Sekarang tampaknya sudah tidak dapat lagi dilakukan.

Penentuan waktu yang tepat itu penting. Karena bisa jadi berkaitan dengan ritual ibadah yang kita lakukan. Setiap mau adzan misalnya, muadzin akan melihat jam yang berada di dinding mesjid. Dengan asumsi jam itu tepat, maka adzan dikumandangkan. Tapi betulkah jam itu tepat? Kalaupun tidak tepat kita masih beruntung karena Tuhan kita maha pemaaf!

Sebetulnya sekarang kita dapat melakukan sinkronisasi waktu dengan jam atom melalui internet. Untuk keperluan yang tidak membutuhkan akurasi yang tinggi, saya pikir kita dapat memanfaatkannya.

Jam atom sendiri merupakan sebuah jam yang dirancang berdasarkan frekuensi atom Cessium 133. Sebuah jam yang memiliki akurasi dan presisi yang tinggi. Puluhan negara sudah mengopersikan jam tersebut yang kemudian dikoordinasikan oleh BIPM (http://www.bipm.org/) untuk menghasilkan waktu UTC (http://en.wikipedia.org/wiki/Coordinated_Universal_Time). UTC berbeda dengan GMT sepersekian detik, sehingga untuk kerperluan yang tidak membutuhkan akurasi tinggi perbedaan tersebut dapat diabaikan.

Salah satu lembaga yang memiliki jam atom dan memancarkan “master waktu” adalah NIST (http://www.nist.gov/index.html) di US. Pada awalnya, master waktu tersebut dipancarkan dalam gelombang radio frekuensi tertentu. Dengan perkembangan teknologi, maka kini kita dapat mendapat master waktu tersebut melalui internet.

Sinkronisasi Waktu via Internet
Sinkronisasi jam komputer dengan UTC (NIST) dapat dilakukan dengan mudah. Yaitu:
(Saat ini saya menggunakan sistem operasi windows Vista)
1. Aktifkan konfigurasi tanggal waktu komputer.

2. Pilih Additional Clocks untuk menyesuikankan waktu GMT seseuai letak geografis kita, karena saya di bandung saya pakai GMT +7

3. Pilih tab Internet Time dan kemudian pilih Change Settings
4. Pilih server ( saya pilih time.nist.gov) lalu OK!
5. Selesai

Nah sekarang jam komputer kita sudah tersinkronkan dengan jam master NIST.

Server juga disediakan oleh LIPI (http://time.kim.lipi.go.id/), sinkronisasi dapat dilakukan terhadap server ini dengan mengakses: ntp.kim.lipi.go.id

Pemberontakan

Ketika pengharapan tak segera terkabul, terkadang ia akan melahirkan pertanyaan, keraguan, dan perlawanan. Seperti halnya perlawanan yang berupa sikap apatis tokoh Pak Haji (dalam Harimau-harimau nya Muchtar Lubis) yang berasal dari doa nya pada tuhan yang tak terkabul serta dari harapan-harapannya pada manusia yang sia-sia. Pak Haji mengambil jarak pada manusia dan tuhan dengan cara berhenti berdoa dan berhenti mengharap pertolongan manusia. Berhenti! Tidak mau diganggu dan tidak ingin mengganggu manusia serta tuhan.

(Tokoh Pak Haji beruntung lahir dari tangan seorang Muchtar Lubis. Pada akhir riwayatnya, perlawanan Pak Haji berakhir dan berubah menjadi kesadaran tentang cinta dan kepasrahan diri pada tuhan. Husnul Khotimah!)

—-

Perlawanan pada dewa menjadi latar cerita Clash of The Titans (2010) sebuah cerita berdasarkan mitos Perseus. Doa yang tidak terkabul, dendam, serta perasaan agung manusia menjadi alasan perlawanan manusia pada dewa, walaupun toh pada dasarnya manusia tidak dapat mengalahkan dewa.

Ketika manusia memberontak, tidak lagi berdoa, patung Zeus dirobohkan, ketika itu dewa Hades meminta ijin pada Zeus untuk menghukum manusia. Walaupun Zeus mengijinkan tapi ia sangat mencintai manusia. Usaha Hades digagalkan oleh Perseus yang secara tidak langsung dibantu oleh Zeus sendiri.

—-

 

May 12, 2010 at 3:09am

Ideologi, Penumpang, serta Angkutan Kota

  • Jika untuk menghentikan angkot seseorang itu berteriak “KIRI”, maka ia adalah seorang SOSIALIS.
  • Jika untuk menghentikan angkot seseorang itu berteriak “KANAN”, maka ia adalah seorang IDEALIS.
  • Jika untuk menghentikan angkot seseorang itu berteriak “STOP”, maka ia adalah seorang KONSERVATIF.
  • Jika untuk menghentikan angkot seseorang itu menekan bel yang tersedia, maka ia adalah seorang MODERNIS’
  • Jika ia tidak menghentikan angkot itu namun terus meloncat keluar lewat pintu, maka ia mungkin seorang REVOLUSIONER.   (Dalam pikirnya mungkin ia ingat ucapan Mao Zedong, “Sekali revolusi dikobarkan maka tidak ada kata “berhenti!”)
  • Jika ia tertidur terus dalam angkot sampai lupa mau turun dimana, maka ia seorang APATIS atau juga seorang mantan AKTIVIS  yg lelah.
  • Jika ia duduk di depan, sebelah sopir, sambil terus mengomentari apa-apa yang terjadi sepanjang jalan, maka ia seorang OPOSISI.
  • Jika ia bawa sangkar burung yang tertutup kain dan menawarkan burung beo yang ada di dalamnya ke penumpang lain, maka ia adalah PENIPU.
  • Jika ia duduk mendesak kita sambil pura-pura batuk sementara salah satu tangannya merogoh saku belakang celana kita, maka yang gituan mah COPET.  (Hati-hatilah karena ia memangsa buruan seperti serigala, tidak sendiri tapi sering bergerombol)
  • Jika ada seorang ibu muda berkurudung ditemani anak perempuannya yang berumur 3 tahun, kemudian anak itu bilang sambil menunjuk ke arah kita, “Mah itu bapak!” ….. itu mah pengalaman waktu masih kuliah.

Tekstil, Gayus, dan Dekonstruksi

Sudah lama saya sedikit curiga terhadap hubungan antara istilah teks dengan tekstil,  tapi saya tidak mencari upaya lebih jauh untuk memperdalam kecurigaan tersebut.   Sampai suatu saat saya menemukan hubungan istilah teks dengan tekstil itu dengan cara yang tidak sengaja yaitu ketika saya membaca suatu tulisan yang membahas pemikiran Jacques Derrida, filosof dari Perancis itu.  Saya menemukan bahwa istilah teks berasal dari bahasa latin texere yang berarti menenun.

Sebuah teks, kata Derrida, merupakan suatu jalinan dari teks dalam arti ia tidak pernah berdiri sendiri.  Sebuah teks merupakan sebuah bekas.  Bekas yang ditandai melalui teks itu juga adalah sebuah bekas dari yang lain.

Bayangkanlah sebuah bercak hitam (kopi) yang cenderung melingkar di atas meja.  Bercak itu merupakan bekas secangkir kopi.  Kehadiran bercak tersebut menunjukkan bahwa ada secangkir kopi di atas meja itu yang walaupun cangkir itu sudah tidak terlihat lagi di atas meja.   Namun bagi Derrida, secangkir kopi itu juga merupakan sebuah bekas.  Bekas bahwa ada orang yang menyeduhnya, ada kopi dan gula yang diaduk.  Dan orang, kopi, dan gula pun merupakan bekas yang menunjukkan kehadiran yang lainnya.  Dengan demikian terjalinlah suatu teks itu.

Jalinan teks itu dapat dibongkar.  Derrida menyebutnya mendekonstruksi sehingga menghasilkan teks lain yang mengatasi (menjelaskan) teks-teks itu.  Teks yang menjelaskan teks-teks lain itu dinamakan metateks.

Jadi ketika saya menempatkan kasus Gayus sebagai sebuah teks, maka, dalam perspektif Derrida, saya melihat adanya kasus-kasus lain.  Oleh karena itu, kasus-kasus itu harus dibongkar atau didekonstruksi sehingga ditemukan metakasus yang menjelaskan semuanya.

 

Paling tidak itu yang saya pahami!

 

January 21, 2011 at 4:15pm

Tapi jangkrik itu tidak tuli!

Jangkrik itu dia letakan di atas meja.  Kemudian bersamaan dengan tepuk tangannya yang keras, dia berteriak “loncat!” dan jangkrik pun meloncat.

Kemudian dia (maaf) memotong salah satu kaki jangkrik itu dan meletakkanya kembali di atas meja serta mengulangi percobaannya sampai semua kaki jangkrik itu terlepas dari badannya.

Setelah semua itu, dia menulis kesimpulan:

“Jangkrik yang sama sekali tidak memiliki kaki maka akan menjadi tuli!”

 

(Diambil dan dimodifikasi dari buku Theories of Learning, B.R. Hergenhahn & Matthew H.O.)

 

April 7, 2011 at 6:01pm

4 tanda tanya

_ ,
( ‘<
/ ))
/| ‘

Setiap anak yang baik adalah harapan orang tuanya dan orangtua yang penuh kasing sayang adalah dambaan anak-anaknya. Sejauh hubungan antara orangtua-anak harmonis, maka tampaknya masing-masing pihak dapat menempatkan diri mereka pada tempatnya masing-masing. Anak-anak menghormati orangtuanya dan orang tua menyayangi anak-anaknya.

Namun jika terjadi kekusutan hubungan antara anak dan orang tua, siapakah yang salah? Sebagian
orang tua beranggapan bahwa mereka telah bersusah payah membesarkan anak-anak mereka sehingga mereka berhak atas seluruh atau sebagian kasih sayang anak-anaknya. Ajaran moral pun berkata demikian. Sementara anak-anak dapat beranggapan bahwa keberadaan dia di dunia adalah karena perbuatan orangtuanya. Anak-anak tak pernah berharap lahir ke dunia. (Tak ada kesadaran sedikitpun, yang tersisa dalam diri kita, yang mengingatkan kita akan keinginan kita lahir ke dunia, bukan?)

Sungguh tragis nasib MalinKundang. Ia tak pernah ingin terlahir, ketika keinginannya tidak tercapai terkutuklah menjadi batu. MalinKundang hanyalah seorang anak. Siapakah yang salah?

Tentu saja, cerita MalinKundang adalah cerita orangtua pada anak-anaknya. Cerita mengenai keinginan dan harapan orang tua terhadap anaknya. Orangtua memang pandai membuat cerita. Tapi pandaikah mereka membuat cerita untuk diri mereka sendiri yang berisi tentang bagaimana seharusnya mereka memperlakukan seorang anak?

 

March 20, 2009 at 1:37am

Ada ada saja

Apakah jika tidak ada manusia, maka gempa bumi atau tsunami tidak akan terjadi di bumi?? Nah, tidak akan ada pernah penelitian untuk itu sampai kapanpun. Tapi sekedar berhipotesa boleh saja, gempabumi akan tetap terjadi walaupun tidak ada manusia di bumi. Sekali lagi, ini sekedar hipotesa, tapi ini hipotesa yang tidak akan pernah teruji. Saya hanya mengingatkan bahwa manusia itu memiliki moral ( atau moralitas??). JIka tidak ada manusia maka tidak ada moral (atau moralitas??).

Baiklah itu sekedar pengantar. Sebuah pengantar yang tidak ada kaitannya (barangkali?) dengan yang diantarnya (Apa masih bisa disebut pengantar?).

Saya hanya ingin menulis soal riwayat matahari. Tidak banyak! Tapi mari kita berimajinasi!
Matahari, tentu saja bukan bola api raksasa, hanyalah sebuah bintang. Matahari, riwayatnya tidak akan berbeda dengan bintang-bintang lain yang betebaran begitu banyak, mengalami kematian. Kita bisa menyaksikan kematian sebuah bintang tapi tidak kematian matahari. Anda harus berpikir: jika matahari mengalami kematian maka sebelum itu terjadi, matahari akan membesar dan menelan bumi, ya tentu saja menelan anda dan saya juga jika saat itu kita masih hidup.

Selanjutanya jika saya dan anda dan seluruh kehidupan di bumi dan buminya sendiri sudah musnah, maka alam semesta secara keseluruhan tidaklah musnah. Tetap ada (Tapi entahlah mengada untuk siapa?) Jadi kalau berbicara kiamat, tampaknya tidak perlu berpikir jauh dengan membayangkan kehancuran seluruh semesta, cukup dengan kematian matahari saja maka kiamat akan hadir dihadapan kita. Kehancuran bumi dan manusia, tapi tidak kehancuran alam semesta keseluruhan.

Secangkir kopi masih berguna walapun jika tidak ada manusia yang mengirupnya. Secangkir itu akan segera ditemukan oleh semut, huh saya sering mengalami dan menyaksikan hal itu.
Tapi apa gunanya alam semesta tanpa kehadiran manusia ??????????????????????????

—-=——()—-=——

July 17, 2009 at 12:57am

Kesurupan

Apakah yang masuk ke tubuh orang yang kesurupan?
Apakah orang yang sudah meninggal?
Apakah jin?
Apakah jin yang sudah meninggal?

Kalau manusia kesurupan manusia lain yang sudah meninggal, apakah jin juga dapat kesurupan jin lain yang sudah meninggal?

Jika alam manusia terpisah dengan alam jin, apakah alam manusia yang meninggal terpisah dengan alam jin yang meninggal?

Duh Gusti, maafkan aku dengan pertanyaan2 bodoh ini.

 

April 17, 2009 at 1:48am

Perjalanan ke Timur dan mungkin Saya yang salah

Saya hendak ke gunung galunggung saat itu, sekitar tahun 1996 an. Naik bis dari Cicaheum merk Budiman kalo gak salah. Duduk nyaman di bangku belakang sambil menguapkan pikiran. Ada satu kejadian yang menarik perhatian saya, di kursi depan, di atasnya, tepatnya di tempat penyimpanan tas yang biasa berada di atas kepala penumpang itu: sebuah tas hampir jatuh!

Pikiran yang tadi menguap sekarang mengembun, berkumpul lagi di bawah rambut. Apa yang dapat saya lakukan dengan apa yang lihat tersebut. Kemungkinan tas itu akan jatuh jika bis berbelok dengan kecepatan yang tepat. Saya membuat dua pilihan: memberi tahu penumpang-pemilik tas itu atau membiarkannya jatuh dan menimpa orang yang berada dibawahnya. Mungkin mudah membuat pilihan-pilihan tersebut. Tapi sebuah pilihan haruslah ditindaklanjuti dan sebelumnya tentu saja harus diputuskan. Membuat keputusan, inilah problemnya.

Tentu saja saya mengambil keputusan dan akhirnya tas itu benar-benar jatuh menyerempet orang yang berada di bawahnya. Tapi tidak ada yang terluka. Walaupun begitu ada sesuatu yang menggores benak saya. Sedikit goresan yang membuat saya tidak nyaman. Ketidaknyamanan yang tidak akan timbul jika saya memberitahu orang itu. Nah ini yang mungkin anda maksud dengan moral (apa moralitas).

Jika suatu keputusan apa pun yang diambil berdasarkan pada rasa nyaman atau tidak nyamannya, berdasarkan bahagia atau tidak bahagianya, maka saya menyebut ketupusan itu berpaham egoisme. Banyak kejadian yang jika diperhatikan dengan teliti akan membuktikan bahwa sebagian besar dunia ini diisi oleh paham egoisme. Egoisme akan ikut mewarnai cinta, seni, pekerjaan, bahkan bisa jadi aktivitas beragama.

Namun, sejauh yang dimaksud dengan kebenaran adalah kesesuaian dengan aturan maka sependek ini saya tidak mengatakan bahwa egoisme itu salah, bukan???

 

April 14, 2010 at 5:04pm

Interpretasi sebuah kebenaran, dua jenis rambut iklan sampo, dan lain-lain.

___(1)___
Anak perempuan saya 4 tahun umurnya. Dia seperti saya, berambut ikal. Tapi dia suka sedikit rewel kalau sudah mandi dan keramas, tidak seperti saya. Persoalannya sederhana bagi saya tapi mungkin tidak sederhana bagi dia: rambut yang ikal itu!

Barangkali keramas menyadarkan dia tentang rambutnya yang ikal, jenis rambut yang katanya tidak bagus. Gila, katanya. Entah dari mana ketidakkebenaran yang dia pegang itu berasal. Saya menduga informasi itu berasal dari iklan sampo di tv.
Tapi terkadang iklan-iklan di tv manipulatif juga. Dasar apa yang dipegang sehingga rambut lurus itu lebih baik dari rambut bergelombang atau keriting?

Sekarang persoalan dia bertambah bukan hanya sampo tapi juga sabun mandi. Dia sekarang menyukai sabun mandi tertentu yang katanya biar putih cemerlang. Lagi-lagi iklan tv dan lagi-lagi saya hanya bisa menyalahkan diri karena membiarkannya menonton tv tanpa penjelasan.

___(2)___
Pada dasarnya, hemat saya, acara tv adalah rekayasa. Persoalan yang menimpa balita itu mungkin saja secara tidak sadar pula menimpa siapa saja. Tentu saja tidak berkaitan dengan sampo dan sabun mandi, tapi dengan sesuatu yang serius seperti: sosbudhankampol misalnya.

Bisa jadi kita menginterpretasikan realitas tertentu sesuai dengan apa yang diinformasikan tv. Jika tv memberitakan bahwa anggota dewan yang terhormat yang rambutnya lurus itu lebih baik kinerjanya dibandingkan dengan yang berambut ikal maka kita dengan spontan menerima itu sebagai sebuah kebenaran, tanpa kritik?

___(3)___
Saya tidak membenci tv, makanya saya membeli sebuah tv. Menonton tv mungkin sebaiknya tidak sekedar dengan menggunakan mata tapi juga juga dengan dibarengi akal sehat.

___(4)___
Mudah-mudahan akal saya masih sehat!

 

August 1, 2010 at 3:27am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: