Tag Archives: Perbedaan Indikator dengan Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran

Perumusan Tujuan Pembelajaran melalui pendekatan Dick, Carey, dan Carey

Perbedaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

 Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan pengertian tentang kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, serta tujuan pembelajaran. Masing-masing pengertian tersebut adalah:

  • Kompetensi dasar

Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran;

  • Indikator pencapaian kompetensi

Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan;

  •  Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Berbeda dengan kompetensi dasar yang merupakan salah satu bagian dari Standar Isi yang ditetapkan oleh pemerintah (PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006), indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran diserahkan sepenuhnya ke setiap satuan pendidikan dengan mengacu pada suatu kompetensi dasar tertentu.

Suatu kompetensi dasar yang dipilih akan diturunkan menjadi beberapa indikator pencapaian. Sesuai dengan pendefinisian mengenai indikator pencapaian kompetensi di atas, maka pada dasarnya indikator adalah perilaku yang dapat diukur/diamati (lihat PERMENDIKNAS tentang Standar Proses). Oleh karena itu penulisan indikator menggunakan kata kerja operasional yang mencakup ranah (domain) belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik yang disesuaikan dengan kata kerja pada kompetensi dasar yang dipilih. Kata kerja-kata kerja yang dipilih dapat dilihat pada pembahasan sebelumnya mengenai domain belajar.

Dari indikator yang telah dibuat kemudian dirumuskan tujuan pembelajarannya. Sesuai dengan pendefinisian tujuan pembelajaran menurut PERMENDIKNAS tentang Standar Proses, tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar. Oleh karena itu secara definitif, tujuan pembelajaran berbeda dengan indikator pencapaian kompetensi. Perlu ditekankan lagi bahwa indikator pencapaian kompetensi menyatakan perilaku terukur/teramati sedangkan tujuan pembelajaran menyatakan proses dan hasil yang diharapkan.

Walaupun menentukan tujuan pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dalam suatu perancangan pembelajaran, namun untuk merumuskannya terdapat kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru/instruktur. Salah satu kesulitan tersebut adalah tidak adanya suatu model yang mampu membimbing guru/instruktur dalam membuat tujuan pembelajaran tersebut (Dick, Carey, and Carey, 2005).

Perumusan Tujuan Pembelajaran berdasarkan pendekatan Dick, Carey, dan Carey.

Dalam literatur-literatur berbahasa Inggris dikenalkan istilah-istilah seperti instructional goal, instructional objective, performance objective, behavioral objective. Dick, Carey, dan Carey menyatakan bahwa instructional goal merupakan langkah pertama dalam perancangan pembelajaran berupa pernyataan yang jelas mengenai apa yang akan dapat dilakukan oleh pembelajar sebagai hasil dari suatu pembelajaran. Dalam hal ini, suatu kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Standar Isi dapat diasumsikan sebagai instructional goal tersebut dan selanjutnya ditulis sebagai kompetensi dasar.

Selanjutnya Dick, Carey, dan Carey menyatakan bahwa performance objective adalah gambaran detail mengenai apa yang akan mampu dilakukan oleh pembelajar ketika pembelajar tersebut menyelesaikan suatu pembelajaran. Menurut Dick, Carey, dan Carey instructional objective, performance objective, dan behavioral objective merupakan istilah yang sinonim. Dalam hal ini instructional objective, performance objective, atau behavioral objective adalah tujuan pembelajaran dan selanjutnya ditulis sebagai tujuan pembelajaran.

Menurut Dick, Carey, dan Carey; ketika instructional goal diubah menjadi tujuan-tujuan pembelajaran, instructional goal tersebut diacu sebagai terminal objective. Terdapat perbedaan antara instructional goal dengan terminal objective terutama dalam konteks kemampuan yang akan diperoleh tersebut ditunjukkan. Instructional goal mengutarakan kemampuan yang akan dimiliki oleh pembelajar setelah mereka menyelesaikan suatu pembelajaran dalam konteks dunia-nyata, bukan dalam situasi pembelajaran. Sementara terminal objective mengutarakan secara jelas kemampuan apa yang akan dimiliki pembelajar dalam konteks situasi (proses) pembelajaran. Oleh karena itu tujuan pembelajaran – tujuan pembelajaran yang diturunkan dari suatu instructional goal seharusnya juga dirumuskan dalam konteks proses pembelajaran. Hal tersebut bertepatan dengan pengertian tujuan pembelajaran yang terdapat dalam Standar Proses di atas yaitu suatu gambaran proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Menurut Dick, Carey, dan Carey; dengan berdasarkan pada Robert Mager; terdapat tiga komponen utama yang harus ada dalam menyatakan sebuah tujuan pembelajaran. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Komponen pertama adalah mengutarakan kemampuan (skill) atau perilaku (behaviorial) yang akan dimiliki oleh pembelajar. Komponen ini mengandung aksi (dirumuskan dalam bentuk kata kerja operasional) dan isi atau konsepnya. Perumusan komponen pertama ini sama dengan perumusan indikator pencapaian kompetensi karena seperti telah dikemukakan sebelumnya indikator pencapaian kompetensi pada dasarnya adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu.

  2. Komponen kedua adalah mengutarakan kondisi (condition) yang akan diberlakukan ketika pembelajar mengerjakan tugasnya. Apakah pembelajar akan diijinkan menggunakan komputer? Akankah pembelajar diberikan sebuah paragraf untuk dianalisis? Pada intinya kondisi-kondisi ini mengacu pada keadaan sekitar dan sumber-sumber belajar yang akan disediakan bagi pembelajar.

  3. Komponen ketiga adalah mengutarakan kriteria yang akan digunakan untuk menilai tingkat prestasi pembelajar yang dapat diterima setelah mereka menyelesaikan suatu pembelajaran. Dalam hal pemilihan kriteria bisa menjadi sesuatu yang kompleks. Kriteria untuk sebuah kursi yang baik, misalnya, bisa berdasarkan pada kekuatannya; berdasarkan kenyamanannya; dan berdasarkan aspek estetikanya (warna, keseimbangan, koordinasi dan sebagainya).

Perumusan tujuan pembelajaran yang diturunkan dari kompetensi dasar berdasarkan pendekatan Dick, Carey, dan Carey yang telah diuraikan sebelumnya ditunjukkan oleh gambar di bawah.

Perumusan Tujuan Pembelajaran

Referensi:

_______. 2006.Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BNSP

_______.2006. PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

 _______.2007. PERMENDIKNAS RI No.47 Tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dick, W., Carey, L. & Carey J. O. 2005. The Systematic Design of Instruction. 6th Ed. Newyork: Pearson.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: