tentang kelahiran

Setiap anak yang didambakan adalah harapan orang tuanya dan orangtua yang penuh kasing sayang adalah dambaan anak-anaknya. Sejauh hubungan antara orangtua-anak harmonis, maka tampaknya masing-masing pihak dapat menempatkan diri mereka pada tempatnya masing-masing. Anak-anak menghormati orangtuanya dan orang tua menyayangi anak-anaknya.

Namun jika terjadi kekusutan hubungan antara anak dan orang tua, siapakah yang salah? Sebagian orang tua beranggapan bahwa mereka telah bersusah payah membesarkan anak-anak mereka sehingga mereka berhak atas seluruh atau sebagian kasih sayang anak-anaknya. Ajaran moral pun berkata demikian. Sementara anak-anak dapat beranggapan bahwa keberadaan dia di dunia adalah karena perbuatan orangtuanya. Anak-anak tak pernah berharap lahir ke dunia. (Tak ada kesadaran sedikitpun, yang tersisa dalam diri kita, yang mengingatkan kita akan keinginan kita lahir ke dunia, bukan?)

Sungguh tragis nasib MalinKundang. Ia tak pernah ingin terlahir, ketika keinginannya tidak tercapai terkutuklah menjadi batu. MalinKundang hanyalah seorang anak. Siapakah yang salah?

Tentu saja, cerita MalinKundang adalah cerita orangtua pada anak-anaknya. Cerita tentang keinginan dan harapan orang tua tentang bagaimana seorang anak harus berbuat pada orangtuanya. Orangtua memang pandai membuat cerita. Tapi pandaikah mereka membuat cerita untuk mereka sendiri yang mengajarkan bagaimana seharusnya mereka memperlakukan seorang anak?

Di luar kemelut hubungan antara MalinKundang dengan orangtuanya, kelahiran MalinKundang sudah pasti bermakna. Tidak untuk orangtuanya, tapi untuk jutaan anak yang lahir kemudian. Dalam hal ini, barangkali tidaklah salah kalau orangtua yang hidup sekarang berterima kasih kepada MalinKundang.

Apakah sesuatu yang lahir harus selalu bermakna?

Ada pribadi-pribadi yang kelahiran atau kehadirannya ditungu-tunggu oleh sebagian masyarakat dengan budaya atau agama tertentu. Kalki Awatara, Bodhisatva Matteya (Maitreya), Imam Mahdi, dan sepertinya masyarakat Yahudi pun masing menunggu kedatangan seorang Nabi yang seperti Musa a.s. sampai sekarang. Sejak awal, jauh sebelum mereka bersedia hadir di dunia, mereka sudah bermakna.

Tapi selain pribadi-pribadi tersebut di atas, terdapat milyaran pribadi-pribadi lain yang sudah lahir ke dunia. Ada yang terlahir dengan nasib baik, sebaik-baiknya nasib. Sebagian lagi terlahir dengan nasib buruk, bahkan lebih buruk dari nasib siapapun. Apakah makna kehadiran milyaran manusia yang lahir tersebut?

Semesta mengembang, kehancuran bintang terjadi. Jika matahari hancur dan mati, apakah keberadaan alam semesta masih mempunyai makna?

Apakah blog ini harus bermakna (bagi orang lain)? Jika ia tidak terbaca oleh selain pembuatnya, ia hanyalah susunan 1 dan 0 yang terhimpit dan terlupakan dalam rimba internet. Jika ia (ingin) dibaca oleh orang lain, tidakkah itu semacam kesombongan?

BlogKu, pikiranku. Apapun jadinya, tak mungkin aku mengutukmu menjadi batu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s