Perilaku Bumi versus Perilaku Manusia

Ada apa dengan bumi? Akhir-akhir ini kita telah menyaksikan fenomena alam, yang karena berdampak pada kehidupan manusia kemudian sering disebut sebagai bencana alam, seperti gunung meletus, gempa bumi dan Tsunami. Pada akhir tahun 2004, dunia tersentak karena terjadi gempa tektonik disertai Tsunami di Aceh yang menelan korban ratusan ribu orang meninggal, ribuan anak kehilangan orang tua, hancurnya bangunan-bangunan, struktur dan infra struktur kota. Sekitar bulan Mei 2006, ketika kita memusatkan perhatian pada aktivitas gunung Merapi yang akan meletus, terjadi lagi gempa di daerah Yogyakarta yang membuat ribuan orang meninggal dunia. Tidak lama setelah gempa di Yogyakarta, pantai Pangandaran menyusul di guncang gempa. Juga pada tahun 1998 yang lalu, terjadi fenomena El-Nino yang mengakibatkan sebagian besar daerah di Indonesia mengalami kemarau panjang, kebakaran hutan, menyusutnya volume air di waduk-waduk pembangkit tenaga listrik, serta berkurangnya ketersediaan air bersih untuk keperluan masyarakat. Ditambah lagi isu-isu tentang perubahan iklim global, pemanasan global, efek rumah kaca dan penipisan lapisan ozon di atmosfer. Kita, untuk sementara ini, tidak punya pilihan lain selain hidup dan tinggal di bumi. Oleh karena itu, apapun yang terjadi pada bumi, kita sebagai manusia selalu berkepentingan. Tidak berlebihan jika lebih dari satu film-film keluaran Hollywood bertema tentang fenomena alam yang bersinggungan dengan kehidupan manusia. Sebut saja Armagedon, Vulcanno, Twister, Hail, The Perfect Storm serta The Day After Tomorrow. Sebetulnya bumi tidak pernah marah, ia hanya sekedar tunduk pada hukum-hukum alam yang berlaku. Bencana terjadi ketika ketundukan bumi pada hukum-hukum alam tersebut mengakibatkan kehidupan, terutama kehidupan manusia, terancam dan atau musnah.

Bencana alam

Sebagai manusia, satu-satunya mahluk yang mampu mengatur dan mengelola bumi, kita diharuskan bersikap bijaksana. Kita harus menyadari bahwa untuk sebagian bencana asal penyebabnya tidak dapat kita kendalikan. Bencana tersebut lebih disebabkan oleh perilaku alam (bumi) yang dinamis. Gempa bumi, Tsunami, letusan gunung berapi, badai tropis, tornado, El-Nino serta La-Nina adalah murni perilaku bumi. Perilaku yang sebab-sebabnya tidak ada kaitannya dengan aktifitas manusia, lahir atau meninggalnya seorang pembesar atau bahkan kemarahan seorang mahluk ghaib. Ada ataupun tidak ada manusia di muka bumi ini, maka bumi akan berperilaku seperti harusnya. Untuk menghadapi perilaku bumi seperti itu, kita hanya perlu lebih jauh mengenalnya, mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruknya, mempersiapkan diri dan selanjutnya biarkan ia berlalu. Dengan kerendahan hati, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita hidup di atas bumi yang dinamis, kita hidup di lingkungan alam yang begitu rentan dengan bahaya yang selalu mengancam jiwa, harta dan keluarga kita. Dengan kesadaran serta kerendahan hati pula kita menyadari bahwa kita terlalu lemah dan tidak mempunyai cukup kekuatan untuk mengendalikan semuanya. Manusia tetaplah manusia, dalam sudut pandang semesta ia hanyalah bagian yang begitu kecil.

Bencana (oleh) manusia

Untuk sebagian bancana yang lain, justru kitalah penyebabnya. Tampaknya sampai saat ini manusia belum dapat menjadikan bumi menjadi lebih baik, lebih nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Alih-alih membuat lingkungan bumi lebih nyaman, kita malah seringkali membuatnya rusak. Setiap hasrat dan tindakan kita yang berlebihan serta tidak bijaksana untuk mengeksploitasi bumi dengan motif ekonomi, politik dan apapun sering kali menjadi bom waktu yang akan meledakan kita atau keturunan kita kelak. Sekali lagi bumi tidaklah marah, ia hanya tunduk pada hukum-hukum yang mengaturnya. Perambahan hutan, penebangan pohon-pohon di gunung, mengakibatkan gunung menjadi gundul. Pada saat musim hujan tiba, volume air hujan, yang seharusnya sebagian terserap ke tanah melalui akar-akar pohon dan tersimpan dalam tanah sebagai cadangan air tanah, sebagian besar mengalir di atas permukaan tanah sebagai limpasan yang seringkali mengakibatkan banjir di daerah dataran rendah, longsor serta unsur-unsur hara di gunung-gunung terkikis. Pada saat musim kemarau, kita kekurangan air bersih karena volume cadangan air tanah kecil, debit air sungai kecil, sistem irigasi dan pertanian terganggu. Penebangan masal yang tidak bertanggung jawab di hutan-hutan tropis adalah salah satu faktor penyebab pemanasan global. Kita mengetahuinya bahwa pada siang hari pohon-pohon menyerap gas karbon dioksida dan melepaskan oksigen. Ketika hutan-hutan tropis luasnya berkurang, maka gas karbon dioksida di atmosfer akan cenderung meningkat. Lapisan karbon dioksida di atmosfer bersifat meneruskan gelombang pendek matahari dan menahan gelombang panjang yang dipancarkan bumi. Gelombang panjang yang terperangkap di bumi oleh lapisan karbondioksida menyebabkan bumi menjadi panas. Selain karbondioksida (CO2), nitroksida (N2O), methana (CH4), sulfurheksaflourida (SF6), perflourokarbon (PFC), dan hidrofluorokarbon (HFC) disebut sebagai gas rumah kaca. Secara alami gas rumah kaca dihasilkan sendiri oleh aktifitas bumi. Gas rumah kaca menjaga kehangatan temperatur lingkungan bumi. Jika tidak ada gas rumah kaca, maka temperatur bumi akan dingin, 33 derajat celcius lebih rendah dari sekarang. Namun sebagian aktifitas manusia menghasilkan gas rumah kaca ini yang mengakibatkan jumlah gas tersebut meningkat melebihi apa yang diperlukan. Hal ini yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global. Aktifitas manusia yang lain yang menyebabkan kerusakan dan mengundang bencana adalah penggunaan zat chlorofluorocarbon (CFC) misalnya pada lemari es dan air conditioner (ac) . Zat tersebut dan zat lain seperti freon menyebabkan lapisan ozon menipis. Lapisan ozon sendiri berguna untuk menahan sebagian sinar ultraviolet (ultraviolet – B). Ultraviolet B berpotensi menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker kulit dan katarak. Usaha manusia Sebagian perilaku bumi dan fenomenanya memang tidak dapat kita kendalikan, namun sebagian yang lain dapat kita kendalikan. Kita bersyukur bahwa ada usaha-usaha logis bersama yang dilakukan untuk mengantisipasi dan mengurangi efek negatif dari perilaku bumi tersebut betapapun kecilnya. Di Jawa Barat ada moratorium penebangan hutan selama lima tahun. Setiap tanggal 16 September adalah hari ozon internasional, yang selalu diperingati agar masyarakat internasional tetap sadar bahwa lapisan ozon bumi cenderung terus menipis. Kesepakatan internasional yang diadakan di Wina, Austria pada 22 Maret 1985 dan pertemuan di Montreal, Kanada pada 16 September 1987 yang kemudian menghasilkan Konvensi Wina dan Protokol Montreal merupakan usaha bersama untuk mengurangi, kalau tidak dapat dikatakan mencegah, penipisan lapisan ozon. Pada bulan Desember 1997 yang lalu di Kyoto, Jepang, disepakati Protokol Kyoto yang berisikan bahwa negara-negara industri harus mengurangi emisi-emisi dari 6 gas rumah kaca dengan rata-rata lebih dari 5,2 persen selama 2008-2012. Pada tahun 1992, Indonesia meratifikasi Protokol Montreal dan Konvensi Wina melalui Keppres Nomor 23 Tahun 1992 tentang Pengesahan Konvensi Wina dan Protokol Montreal. Pada tanggal 1 Agustus 1994, lahir UU No 6 Tahun 1994 mengenai Pengesahan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Kemudian PP No 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Indonesia sendiri menargetkan penghapusan bahan perusak ozon pada tahun 2007. Usaha-usaha tersebut seharusnya didukung oleh semua pihak. Karena misalnya pemanasan global maupun penipisan lubang ozon bukan hanya akan merugikan manusia sebagai anggota masyarakat / negara tertentu tapi bahkan mengancam seluruh kehidupan di muka bumi secara kesulurahan.

Di samping usaha-usaha tersebut, kita pun dituntut terus menggali dan mendalami perilaku alam (bumi) bukan sekedar untuk kepentingan eksploitasi dan eksplorasi saja tapi juga agar kita dapat mengurus bumi dengan lebih baik dan tidak jadi salah urus demi keberlangsungan kita dan keturunan kita selanjutnya. Kita tidak ingin mewariskan bumi yang penuh dengan masalah dan terlambat untuk diselesaikan, akibat kelalaian-kelalain kita saat ini, pada anak-cucu kita.

Penutup Bencana yang terjadi disekitar kita dapat dikategorikan dalam dua bagian. Pertama bencana yang disebabkan oleh semata-mata karena dinamika bumi, yang kedua karena dipicu oleh aktifitas kita sebagai manusia. Untuk yang pertama, kita tidak dapat mengendalikan penyebabnya. Untuk yang terakhir, kita yang memicunya sehingga kita dapat mengendalikan penyebabnya. Tampaknya adalah merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk mengenalkan, memberi pengertian dan mewariskan ilmu kepada generasi penerus tentang semua hal yang berkaitan dengan bumi beserta fenomenanya agar mereka dapat lebih arif dalam hidup dan mengelola bumi. Anak-cucu kita berhak atas ilmu dan pengetahuan tersebut sementara kita akan baru dapat dikatakan bijaksana jika telah memenuhi hak anak-cucu kita tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s