Kebangsaan, Kemanusiaan, dan Matahari

Jika ada seseorang bertanya kepada saya, “Apakah Anda bangga menjadi seorang yang berbangsa Indonesia?” maka saya akan menjawabnya “Tidak”.  Tapi jika seseorang tersebut bertanya, “Apakah Anda bangga menjadi seseorang yang berbangsa Inggris” maka jawaban saya adalah “Tidak”.  Menjadi seseorang dari bangsa tertentu tidak akan  membuat saya bangga.

 

Jika seseorang bertanya kepada saya, “Apakah Anda bangga menjadi seorang manusia?” saya akan menjawabnya “Tidak”.  Tapi juga jika seseorang bertanya kepada saya, “Apakah Anda bangga menjadi seekor kera?” maka saya pun akan menjawab “Tidak”.  Menjadi seorang anak manusia tidaklah membuat saya menjadi bangga.

 

Walaupun terdapat perbedaan, kebangsaan dan kemanusiaan lebih merupakan suatu takdir.  Pada dasarnya takdir sendiri merupakan sesuatu yang deterministik, tertentukan, dan kita tidak dapat mengubahnya.  Perhatikan saja diri Anda sendiri saat ini, Anda ditakdirkan menjadi manusia, bukan kera. Sebagai manusia, Anda menjadi lelaki atau perempuan.   Apakah menjadi lelaki atau perempuan juga merupakan suatu pilihan bagi Anda?  (Tentu saja pertanyaan ini hanya untuk Anda, bukan untuk Mba Dorce)

 

Sudah lama saya menganggap diri saya bukan seorang yang rasialis.  Oleh karena itu secara praktis saya tidak mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan rasnya.  Saya berteman dengan siapapun sepanjang hubungan pertemanan dengan orang tersebut dapat terjadi.

 

Menurut saya, menjadi seorang anak bangsa yang baik tidak selalu berarti menjadi anak manusia yang baik.  Nilai-nilai yang dikembangkan oleh keduanya bisa jadi saling kontradiktif.  Lihat saja, setiap peperangan selalu menjadi bencana kemanusiaan,  padahal  peperangan itu sendiri sering kali berawal dari rasa kebangsaan. 

 

Nilai-nilai manakah yang akan Anda kembangkan, kemanusiaankah? atau kebangsaan?  Itu terserah Anda.  Tapi saya memilih untuk mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan.  Jadi menurut saya, kemanusiaan lebih tinggi dari kebangsaan.  Manusia-manusia besar pembawa kabar dari langit (Nabi), manusia-manusia besar pengajar kebaikan seperti Budha, Kong Hu Chu dan sebagainya selalu berbicara tentang nilai-nilai kamanusiaan ini.          

 

Lantas apa hubungannya dengan Matahari?  Saya hanya berpikir bahwa setiap manusia dan setiap bangsa hidup di atas bumi yang sama dan mengelilingi matahari yang sama.  Jika suatu saat matahari lenyap, maka ‘lenyaplah’ kita sebagai manusia atau sebagai bangsa.

 

– “Sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang banyak manfaatnya bagi manusia lain” – (Muhammad s.a.w.)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s