Malcolm X: Jalan setapak bagi Obama

180px-malcolm-x

Malcolm X lahir pada tanggal 19 Mei 1925 dan meninggal tanggal 21 Februari 1965. Dikenal juga sebagai El Hajj Malik El-Shabazz, gelar setelah ia melaksanakan haji di Mekkah. “X” pada namanya merupakan tambahan setelah ia bergabung dengan organisasi Nation Of Islam pimpinan Ellijah Muhammad. Malcolm dikenal sebagai seorang pejuang HAM, Mubaligh, dan salah seorang afrika-amerika yang paling berpengaruh di abad 20. Otobiografinya, “The Autobiography of Malcolm X”, ditulis dengan bantuan Alex Haley, telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Risalah Gusti
Bagi Alex Haley, Malcolm tampak orang yang cenderung ragu dan tidak banyak bicara.

= Periode Awal =
Malcolm terlahir di lingkungan Amerika yang masih cenderung rasialis, dimana hak-hak kulit hitam masih sangat terbatas. Ia lahir sebagai anak ke empat dari tujuh saudara kandung. Sekitar usia 13 tahun, ayahnya meninggal dunia dan ibunya dirawat di rumah sakit jiwa.

Malcolm muda hidup dengan bekerja dari pekerjaan satu ke yang lain, dari kota satu ke kota lain. Ketika tinggal di Harlem, New York, ia mulai terlibat dalam transaksi obat terlarang, perjudian, pemerasan, perampokan, dan menjalankan prostitusi. Setelah masuk Nation Of Islam, Malcolm mengatakan bahwa tindakannya itu bukanlah kesalahannya tapi kesalahan orang kulit putih yang telah memperbudak negro selama 100 tahun.

Pada tahun 1946, Malcolm menjalani masa tahanan di Massachusetts selama 6 tahun. Di penjara, Malcolm memiliki nickname “Satan”, karena permusuhannya terhadap agama. Setelah berkenalan dengan Bimbi (John Elton Bembry) yang mengajarkannya untuk belajar, Malcolm kemudian menjadi gemar membaca. Kegiatan membacanya kadang-kadang masih dilakukan pada malam hari dengan hanya memanfaatkan cahaya yang keluar dari celah bilik penjara. Baginya penjara adalah universitas, tempat di mana waktu luang tersedia cukup banyak untuk merefleksi dan meningkatkan diri.

Masih dalam penjara, tahun 1948, saudaranya memperkenalkan Nation Of Islam kepada Malcolm. Setelah itu Malcolm banyak melakukan korespondensi dengan Elijah Muhammad pimpinan Nation Of Islam.

Pada tahun 1952, Malcolm dibebaskan dari penjara.

= Menjadi Mubaligh : Titik Balik Pertama =
Selepas dari penjara, Malcolm mengunjungi Elijah Muhammad dan bergabung dalam Nation Of Islam. Dalam organisasi tersebut, Malcolm menjadi orang kedua setelah Elijah Muhammad sendiri. Elijah Muhammad menjadikan Malcolm sebagai orang kepercayaannya yang pertama. Malcolm telah sangat berjasa membesarkan jumlah keanggotaan Nation Of Islam dari 500 orang tahun 1952 menjadi 20.000 di tahun 1963. Kemampuannya berbicara, keberanian serta tentu saja kecerdasan adalah modal utamanya. Malcolm mengilhami petinju dunia Cassius Clay (kita mengenalnya sebagai Muhammad Ali) untuk bergabung dengan Nation Of Islam. (Pada akhirnya Ali keluar dari Nation Of Islam, seperti halnya Malcolm, dan ikut dalam mainstream islam).

­Nation Of Islam sendiri adalah sebuah organisasi yang tampaknya lebih mengutamakan kepentingan ras negro. Nation Of Islam, hemat saya, merupakan organisasi yang ajarannya menyimpang dari mainstream islam. Walaupun Elijah Muhammad mempercayai satu tuhan, mempercayai Al-qur’an, tapi juga mempercayai bahwa W. Fard Muhammad (gurunya Elijah) sebagai personifikasi tuhan di bumi. Dalam Message to the Blackman in America terbit tahun 1965, Elijah mengatakan: ”WE BELIEVE that Allah (God) appeared in the Person of Master W. Fard Muhammad, July, 1930; the long-awaited Messiah of the Christians and the Mahdi of the Muslims.”
Nation Of Islam juga mengajarkan bahwa semua ras manusia berasal dari ras negro, sehingga ras negro adalah ras pilihan tuhan.
­
Malcolm mengabdikan diri pada Nation Of Islam selama dua belas tahun. Pada akhirnya perselisihan dengan Elijah pun terjadi. Pada tahun 1963, ketika Presiden Kennedy dibunuh, Malcolm menyatakan ungkapan “Anak ayam pulang ke kandang”. Elijah marah dan menonaktifkan Malcolm selama 90 hari. Pada tahun 1964, Malcolm mengumumkan perpecahannya dengan Nation Of Islam. Dalam Autobiografinya, Malcolm mengatakan bahwa salah satu alasan dia keluar dari Nation Of Islam adalah setelah ia mengetahui kebenaran skandal antara Elijah dengan sekertaris wanitanya.

= Pergi Ke Mekah: Titik Balik Kedua =
Masa diam bagi seorang aktivis adalah masa yang menyusahkan. Atas saran dari saudaranya, Malcolm kemudian pergi ke Mekah untuk menunaikan haji. Di luar dugaannya, ketika di Mekah ia di undang oleh Raja Faisal sebagai tamu negara, dan oleh karenanya mendapat fasilitas-fasilitas yang mewah.
Kepergiannya ke Mekah merupakan bagian penting dalam hidupnya karena di Mekah ia menemukan kesadaran baru tentang Islam dan persamaan ras.
Di Mekah ia baru sadar bahwa selama ini ia tidak tahu bagaimana melakukan wudlu yang benar, bagaimana melakukan sholat yang benar, padahal selama 12 tahun di Nation Of Islam ia adalah seorang mubaligh terkemuka.
Selama di Mekah ia pun menyaksikan persamaan ras yang ia perjuangkan selama ini. Orang yang berkulit hitam (bahkan lebih hitam dari dirinya), kulit putih, kulit coklat, kulit kuning, kulit merah semuanya berkumpul dengan tujuan yang sama, duduk dalam tikar yang sama, makan bersama, tidur bersama. Pemandangan yang tidak pernah ia saksikan di Amerika selama ini. Pandangannya tentang kulit putih adalah setan dan kulit hitam adalah ras pilihan pun berubah. Baginya sekarang, kejahatan bisa dilakukan oleh ras manapun demikian juga kebaikan bisa dimiliki oleh ras manapun.

= Meninggal Dunia =
Sepulang dari Mekah, Malcolm kembali beraktivitas. Ia sering di undang sebagai pembicara di universitas-universitas. Ia aktif di Muslim Mosque, Inc. dan Organization of Afro-American Unity. Pada 21 Februari 1965 di Audubon Ballroom Manhattan’s, ketika memulai pidato dalam pertemuan Organization of Afro-American Unity, Malcolm ditembak 16 kali oleh tiga orang tak dikenal. Malcolm X meninggal dunia. Saat meninggal Malcolm meninggalkan seorang istri dengan empat orang anaknya.


Dua hari sebelum penembakan itu terjadi, Malcolm berkata:

      “Listening to leaders like Nasser, Ben Bella, and Nkrumah awakened me to the dangers of racism. I realized racism isn’t just a black and white problem. It’s brought bloodbaths to about every nation on earth at one time or another.

 

      Brother, remember the time that white college girl came into the restaurant — the one who wanted to help the [Black] Muslims and the whites get together — and I told her there wasn’t a ghost of a chance and she went away crying? Well, I’ve lived to regret that incident. In many parts of the African continent I saw white students helping black people. Something like this kills a lot of argument. I did many things as a [Black] Muslim that I’m sorry for now. I was a zombie then — like all [Black] Muslims — I was hypnotized, pointed in a certain direction and told to march. Well, I guess a man’s entitled to make a fool of himself if he’s ready to pay the cost. It cost me 12 years.

 

    That was a bad scene, brother. The sickness and madness of those days — I’m glad to be free of them.”

180px-shabazz_gravesite

Acuan:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s