Memaknai Langit

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS 55:33)

Dalam ayat tersebut, Tuhan pencipta alam semesta menantang sekaligus mengatakan bahwa manusia maupun jin tidak dapat menjelajahi langit dan bumi kecuali dengan kekuatan (sulthon). Oleh manusia kekuatan tersebut bisa ditafsirkan sebagai ilmu dan teknologi.

Pemahaman manusia tentang alam semesta mengalami kemajuan sedikit-demi sedikit. Ratusan tahun sebelum masehi, bangsa Yunani memahami alam semesta hanya berdasarkan pemikiran spekulatif (filsafat). Sesuai perkembangan ilmu dan teknologi, pemahaman manusia mengenai alam semesta terus diperbaiki. Dahulu manusia menyangka bumi ini datar, tapi kemudian manusia membuktikan bahwa bumi itu tidak datar tapi bulat. Dahulu, manusia menyangka bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Tapi kemudian pemahaman tersebut terbukti salah, bumi hanyalah benda sangat kecil yang berputar mengelilingi sebuah bintang (matahari).

Penciptaan serta penggunaan alat bantu (teknologi) merupakan salah satu ciri khas manusia. Sebelum teropong diciptakan oleh Galileo, manusia melihat langit hanya dengan mata telanjang. Penglihatan dengan mata telanjang tersebut mempengaruhi pemahamannya tentang alam semesta. Kini, teknologi sudah jauh maju dibandingkan jaman Galileo. Manusia sudah dapat menciptakan alat yang lebih canggih dari teleskop Galileo. Manusia sanggup menciptakan teleskop luar angkasa untuk dapat mengambil gambar objek-objek langit dengan kualitas lebih jauh dibandingkan dengan teleskop landas bumi.

Salah satu teleskop luar angkasa (space based) yang telah diluncurkan adalah Teleskop Hubble. Hasil dari ‘pemotretan’ teleskop tersebut dapat diperoleh di internet (http://hubblesite.org/). Seperti misalnya gambar (citra) dibawah.

Galaksi Jauh

Gambar tersebut yang diambil menggunakan teleskop ruang angkasa Hubble merupakan gambar dari galaksi-galaksi yang berjarak belasan milyar tahun cahaya. Galaksi-galaksi tersebut berumur belasan milyar tahun atau sekitar satu milyar tahun setelah dentuman besar (big bang). Tentu saja gambar tersebut tidak akan dapat dilihat oleh manusia pada jaman Socrates atau jaman Galileo dimana teknologi yang mendukung saat itu belum diciptakan.

Gambar-gambar lain misalnya:

Nebula

Nebula

Gugus Bintang

Dan masih banyak lagi gambar-gambar lain yang telah diambil oleh teleskop Hubble serta teleskop-teleskop luar angkasa lainnya yang tersedia di internet. Kita dapat saja hanya sekedar menikmati keindahan dari gambar-gambar tersebut. Tapi alangkah baiknya, terutama untuk menambah keyakinan kita terhadap kekuasaan Tuhan, kita juga bisa memaknainya lebih jauh dengan cara mengetahui aspek fisis dari gambar-gambar tersebut: hukum-hukum fisika apa yang ada dibalik setiap gambar tersebut. Dengan memahami gambar-gambar tersebut secara fisis, dan tidak sekedar menikmati keindahannya, diharapkan akan lahir suatu rasa kagum, kerendahan hati, dan menyadari adanya kekuasaan yang sangat besar di luar kekuasaan manusia.

-()-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s