Apakah Matahari mengelilingi Bumi?

Beberapa tahun yang lalu telah terbit sebuah buku “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari”.  Sudah banyak tanggapan terhadap keberadaan buku tersebut. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan judul buku tersebut dan akan melihatnya dari perspektif lain.

Penulis buku tersebut berargumentasi mengenai pendapatnya tentang matahari yang mengelilingi bumi (bukan bumi yang mengelilingi matahari) dengan berdasarkan penafsirannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist-hadist Nabi S.A.W. Saya tidak akan menafsirkan ulang hal-hal tersebut di atas hanya karena memang saya tidak memiliki kompetensi untuk itu. Namun hemat saya karena persoalan tersebut menyangkut fenomena alam maka persoalan tersebut harus diletakkan pada konteks ilmu alam itu sendiri. Ada hal yang paling mendasar yang membedakan ilmu alam dengan pemikiran spekulatif (perenungan, filsafat) yaitu observasi, pengumpulan data, pengujian, dan sebagainya.

Jauh sebelum buku ini muncul, sesungguhnya Ptelomeus (90 – 168 AD: beberapa ratus tahun sebelum Islam lahir di Mekah) telah membuat model yang menempatkan bumi sebagai pusat tata surya dimana semua benda langit mengelilingi bumi termasuk matahari. Ptelomeus mencoba memodelkan gerakan matahari, bulan serta benda-benda lain tersebut sebagai usaha untuk memahami gerakan-gerakan mereka (Gambar 1).

Pada waktu itu planet (yang secara harpiah berarti pengembara: karena posisinya di langit selalu berubah relatif terhadap bintang-bintang yang menjadi latar belakangnya) yang diketahui adalah Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan Saturnus. Planet-planet tersebut sudah diketahui dan diamati sejak milenium kedua sebelum masehi oleh bangsa Babilonia.

Gambar 1. Model Ptolemean. Sumber: http://www.physics.carleton.ca/~watson/Physics/NSCI1000/Pseudo-science/Gifs/Ptolemy_solar_system.gif

Model Ptolemean tersebut bertahan belasan ribu tahun, setidaknya sampai Nicolas Copernicus (jika astronom muslim tidak dimasukkan) membuat model lain yang berbeda dengan menjadikan matahari sebagai pusat dimana bumi mengelilingi matahari (Gambar 2).

Gambar 2. Model Kopernikan. Sumber: http://csep10.phys.utk.edu/astr161/lect/retrograde/copernican.html

Setelah itu muncul Tycho Brahe (14 December 1546 – 24 October 1601) astronom Denmark yang memberikan model dengan bumi sebagai pusat yang walaupun begitu tetap berbeda dengan model Ptelomean (Gambar 3).

Gambar 3. Model Tychonik. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Tycho_Brahe

Data yang dikumpulkan oleh Tycho Brahe kemudian hari digunakan oleh Kepler untuk menyusun hukumnya yang terkenal, Hukum Kepler. Walaupun data yang digunakan oleh Kepler itu berasal dari Tycho Brahe namun model yang diusulkan Kepler berbeda dengan Model Tycho. Kepler menyimpulkan, salah satunya, bahwa planet-planet bergerak dalam lintasan elips dengan matahari sebagai pusatnya terletak di salah satu titik fokus elips tersebut (Gambar 4). Dalam hal ini, model Keplerian ini termasuk model heliosentrik seperti halnya model Copernikan.

Gambar 4. Model Keplerian.  Sumber: http://www.ifa.hawaii.edu/~barnes/ast110_06/hfts/kepler_model.png

Kemudian era pengamatan menggunakan teleskop di Eropa dimulai yaitu sejak Galileo Galilei (15 February 1564– 8 January 1642) dari Italia menciptakan teleskop. Dengan teleskopnya itu Galilio dapat melihat kawah-kawah di bulan, satelit-satelit yang mengorbit Yupiter (Gambar 5), fase-fase penampakan Venus (Gambar 6) yang semuanya itu, sebelumnya, tidak dapat terlihat dengan menggunakan mata telanjang. Bagi Galileo fase-fase Venus tersebut hanya mungkin terjadi seperti itu jika model tata suryanya adalah heliosentrik: matahari menjadi pusat. Model-model geosentrik, model Ptelomean maupun model Tichonic, tidak dapat menjelaskan fenomena penampakan Venus tersebut. Oleh karena itu Galilio kemudian mendukung Kepler dengan sistem heliosentriknya dan untuk itu Galilio diadili dan divonis penjara seumur hidup oleh otoritas gereja yang saat itu percaya bahwa bumi merupakan pusat alam semesta.

Gambar 5. Yupiter bersama satelit yang mengelilinginya. Sumber: http://www.jb.man.ac.uk/astronomy/nightsky/Jupiterjuly10.jpg
Gambar 6. Fase-fase Venus. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Phases_Venus.jpg

Sepenggal dari sejarah panjang bagaimana manusia di bumi memahami (pergerakan) benda-benda langit tersebut adalah bukti bahwa ilmu alam itu terbuka terhadap kritik. Bukan sebuah dogma yang dapat begitu saja ditelan tanpa dikunyah oleh pikiran dan diuji melalui pengamatan. Dengan bantuan teknologi yang semakin canggih seperti misalnya saja sebuah teleskop yang baik yang mudah kita peroleh saat ini, kita dapat ikut andil untuk menguji, memahami mana yang benar. Namun haruslah disadari bahwa mengamati benda-benda langit itu dibutuhkan ketelitian serta kesabaran yang jauh dari ketergesa-gesaan dan kecerobohan. Pergerakan semu matahari dapat kita saksikan tiap hari. Namun misalnya saja penampakan fase-fase Venus tidak dapat kita saksikan secara utuh dalam satu hari; mengamati paralaks suatu bintang bisa jadi butuh waktu berbulan-bulan kalau tidak tahunan. Dan lagi, untuk semua itu, seringkali kita mesti bekerja di bawah naungan malam yang pekat, jauh dari kegemerlapan kota. Paling tidak, itulah yang dilakukan oleh Tycho Brahe, Galileo, Al Sufi serta astronom lainnya (yang muslim maupun yang bukan muslim).

Jadi, dalam konteks ilmu alam, jika disimpulkan matahari itu mengelilingi bumi maka tunjukkanlah modelnya: bagaimana susunan dan berapakah jarak masing benda-benda langit tersebut. Kemudian model tersebut harus diuji kesesuiannya dengan realitas; harus konsisten dan mampu menjelaskan semua fenomena seperti fase Venus, gerak retrograde planet, paralaks bintang, dan masih banyak lagi. Setelah itu, barangkali kita masih punya tenaga, pikirkan hal yang paling mendasar: mengapa hal itu terjadi?; apakah hukum yang mengatur semuanya?; apakah hukum tersebut dapat diterapkan untuk menjelaskan semua fenomena yang terjadi di alam semesta?

Yah … sebuah rangkaian pekerjaan yang panjang dan bisa jadi memerlukan waktu yang lebih panjang dari umur manusia. Tapi jangan berkecil hati kalau mau sungguh-sungguh, karena sesungguhnya telah berlalu orang-orang yang mengabdikan dirinya dan menghabiskan hidupnya untuk melakukan hal itu. Demi memenuhi rasa ingin tahu serta memperoleh keyakinan dan kebenaran ilmiah.  Tanpa pamrih!

Pustaka:

10 responses

  1. […] Apakah Matahari mengelilingi Bumi? […]

  2. orbit bulan mengelilingi bumi terjadi karena gerakan bulan yang sesungguhnya. Sedangkan “orbit semu” matahari mengitari bumi terjadi karena gerakan bumi mengelilingi matahari namun dengan bumi sebagai titik acuan memandang.

    http://notes.kuplit.com/2012/02/retrograde-motion.html

  3. erwinmaulana

    Betul … terimakasih atas tambahan informasinya.

  4. […] Apakah Matahari mengelilingi Bumi? 0.000000 0.000000 Share this:ShareFacebookTwitterPrintEmailLike this:LikeBe the first to like this.   […]

  5. […] Apakah Matahari mengelilingi Bumi? 0.000000 0.000000 Share this:ShareFacebookTwitterPrintEmailLike this:LikeBe the first to like this.   […]

  6. […] Apakah Matahari mengelilingi Bumi? […]

  7. […] Apakah Matahari mengelilingi Bumi? 0.000000 0.000000 Share this:ShareFacebookTwitterPrintEmailLike this:LikeBe the first to like this.   […]

  8. […] Apakah Matahari mengelilingi Bumi? 0.000000 0.000000 Share this:ShareFacebookTwitterPrintEmailLike this:LikeBe the first to like this.   […]

  9. Annuit coeptis

    Pernah gak membandingkan kedua teori itu bro. Yg satu matahari dipusatnya dan yg kedua bumi dipusatnya?

    Bagaimana? Ada yg janggal? Ketika helio maka jarak bumi dgn planet lainnya tidak konstan, revolusi setiap planet terhadap matahari penyebabnya. Diteori ini yg konstan jaraknya adalah bumi ke bulan dan bumi ke matahari.

    Sedangkan pada teori geo, semua jarak menjadi konstan. Jarak bumi ke planet-planet dan jarak bumi ke matahari dan jarak bumi kebulan, karena pusat dari seluruh revolusi adalah bumi.

    Sehingga kenyataan ini sesuai dgn penelitian apapun yg dilakukan manusia terhadap planet, matahari dan bulan, ya baik penelitian jarak, pengiriman dll.

    Tentunya gak bakalan terjadi di helio, karena pada deret ukur tahun saat ini dekat eh taunya udah dibatasi oleh matahari…

    Hmm soal quran, kitab itu bukan hasil perenuhan atau filsafat, apa ada para filsafat 15 abad yg lalu telah memikirkan proses penciptaan manusia dari air mani yg bercampur lalu segumpal darah trus segumpal daging trus trus trus begitu?.

    Itu kitab adalah bocoran tentang ilmu dari sang pencipta. Nah observasi yg dilakukan adalah untuk mempelajari bocoran itu. Kitab itu adalah induk ilmunya manusia. Dari sanalah sumbernya. Jd penelitian asalah turunan dari kitab. Penerus bocoran yg telah diberikan tuhan agar manusia mempergunakan akalnya.

    Coba baca quran, disana tertulis, tidakkah kalian mau berfikir bagai mana unta diciptakan, bumi dihamparkan, langit ditegakkan, burung diterbangkan, awan diarakkan, dll.

    Udah dulu gi instal corel draw by annuit coeptis novus.ordo_seclorum@rocketmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s