Mengenal Tuhan

Dari pemikiran Hawking tentang awal terbentuknya alam semesta yang tanpa bantuan tuhan,  saya jadi berfikir (untuk sementara) bahwa hukum sebab-akibat yang melandasi sains tidak cukup untuk dapat menyimpulkan ada atau tidak ada tuhan.  Kesadaran manusia tentang ketuhanan lahir secara individualistik dan mengada secara langsung sebagai sebuah anugrah yang itu berarti sebuah pemberian dari tuhan itu sendiri.  Kesadaran ketuhanan yang dialami oleh individu tersebut bisa jadi dipicu oleh penghayatannya dan kekagumannya terhadap mekanisme alam lewat sains, atau lewat pengalamannya selama berinteraksi langsung dengan makhluk lain.  

 

Berbicara soal anugrah, saya jadi teringat cerita seorang penjahat berat yang ingin bertobat dan yang kemudian bertanya kepada salah seorang wanita sufi pada jamannya,”Apakah jika aku bertobat, tuhan akan memaafkanku?”  Sang sufi menjawab,”Tidak!” “Tapi jika tuhan memaafkanmu maka kamu akan bertobat!”

 

Ah, tapi saya tidak ingin berkemelut dengan persoalan jabariah dan qodariah.  Di sini saya hanya ingin meyakini bahwa tuhan maha hidup, maha rohman, maha rohim dan apa yang dapat dilakukan makhluk adalah mengarahkan diri pada kebaikan karena kebaikan lebih dekat pada kebenaran dan karenanya lebih dekat dengan tuhan.  

 

Kembali ke persoalan penciptaan alam semesta.   Saya menemukan sebuah hadist qudsi yang menyatakan, “Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu ‘an u’raf fa khalaqtu al-khalqa li-kay u’raf” (Aku adalah khazanah tersembunyi dan Aku ingin diketahui. Karena itulah Aku menciptakan makhluk agar Aku dapat diketahui).   Mengingat hadist tersebut saya jadi berfikir bahwa tuhan itu ingin lebih dikenal dan dicintai dari pada ingin ditakuti oleh makhluk-makhlunya. 

 

Di lain hal, maqom-maqom yang harus ditempuh oleh murid-murid tasauf biasanya diawali dengan tobat dan diakhiri dengan mahabah atau ma’rifat.  Al ghazali, al kalabadzi, dan yang lainnya mungkin agak berbeda menempatkan maqom-maqom diantara keduanya, tapi paling tidak diantara keduanya terdapat maqom sabar, syukur, taqwa (takut) dan sebagainya.  Dengan maqom-maqom itu pula saya beralasan untuk meyakini bahwa tuhan itu lebih ingin dikenal dan dicintai daripada ingin ditakuti oleh makhluk-makhluknya.

 

Wallohu ‘alam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s