BANDUNG – BONDOWOSO

Seperti cinta, pagi pun buta.  Dalam kebutaan pagi itu yang dingin disertai sayup-sayup suara takbir yang menggema membesarkan nama pencipta pagi, saya harus bergegas dari Garut menuju Bandung untuk mengejar kereta api tujuan Surabaya.

Sesungguhnya tujuan akhir saya bukanlah Surabaya tapi Bondowoso.  Perjalanan menggunakan kereta api mengharuskan saya mampir dahulu ke Surabaya, dan kemudian dilanjutkan ke Jember menggunakan kereta api yang lain.  Dari Jember, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan taksi menuju Bondowoso.  Saya tidak tahu mengapa tidak ada kereta api dengan tujuan Bondowoso; tapi saya pikir tidak ada hubungannya dengan cerita gerbong maut yang tragis di Bondowoso itu.

Bondowoso merupakan kota yang sangat tenang.  Walaupun penduduknya kebanyakan bersuku jawa, tapi bahasanya berlogat madura.  Saya bertemu dengan seorang mualaf, seorang pendatang dari Blitar, yang karena sudah puluhan tahun hidup di Bondowoso jadi berlogat Madura … tak iye.

Bondowoso saat ini mungkin seperti Bandung ketika saya masih kecil,  tenang dan sejuk.  Tapi kemiripan Bondowoso dengan Bandung pada saat ini adalah dari sisi makanan khasnya.  PEUYEUM!  Oleh-oleh dari Bondowoso yang terkenal adalah tape singkong (peuyeum) walaupun berbeda dalam cara mengemasnya dengan peuyeum Bandung.  Sejak itu skema pengetahuan saya bertambah, sehingga kalau saya melihat peuyeum maka saya tidak hanya ingat Bandung tapi juga Bodowoso.

Membicarakan peuyeum Bandung terkadang orang sering memplesetkannya dengan peuyeumpuan (perempuan) Bandung.   Konon julukan Bandung Kota Kembang itu karena perempuannya bukan karena bunga dalam arti sebenarnya.   Teuing ah.  Namun ada satu legenda yang akan hadir dalam pikiran saya jika antara tiga kata ini bersatu: Perempuan, Bandung, dan Bondowoso.  Legenda itu adalah legenda tentang berdirinya Candi Sewu dan Candi Prambanan serta kisah cinta Bandung Bondowoso terhadap Roro Jongrang.

Kisah itu mirip dengan kisah cinta Sangkuriang terhadap Dayang Sumbi yang menyertai berdirinya Gunung Tangkuban Perahu di tatar Sunda.  Sangkuriang kabeurangan (kesiangan) demikian juga Bandung Bondowoso.  Fajar palsu yang diciptakan oleh dua orang perempuan di tempat dan waktu yang berbeda telah menggagalkan cinta dan kesaktian dua lelaki itu.   Dayang Sumbi tak mungkin menerima cinta Sangkuriang, anaknya sendiri.  Sementara Roro Jongrang tak sanggup menerima cinta Bandung Bondowoso yang telah membunuh ayahnya.

Sangkuriang marah, menendang perahu yang ia buat dan mengejar Dayang Sumbi.  Dayang Sumbi lari dan ngahiang (menghilang menuju parahiyangan) di suatu tempat.  Perahu yang ditendang Sangkuriang mewujud jadi Gunung Tangkuban Perahu,  tempat menghilangnya Dayang Sumbi kini bernama Gunung Putri di Sumedang.   Dan konon sisa batang pohon untuk membuat perahu tersebut kini menjadi Gunung Bukit Tunggul, serta ranting-rantingnya menjadi Gunung Burangrang.

Adapun mengenai akhir cerita cinta Bandung Bondowoso terdapat dua versi, setidaknya yang saya tahu.  Versi pertama menyebutkan bahwa Bandung Bondowoso marah dan kemudian dengan kesaktiannya mengubah tubuh Roro Jongrang menjadi patung batu yang ke-1000 di Prambanan.  Versi ke-dua menyebutkan bahwa Bandung Bondowoso terus menyelesaikan patung yang ke-1000 walaupun ia  tahu ia sudah gagal memenuhi syarat yang diminta Roro Jongrang dan tidak dapat memperistri Roro Jongrang.

Bandung Bondowoso dalam versi pertama adalah seorang lelaki sakti berkuasa namun biasa seperti Sangkuriang yang akan marah ketika cintanya bertepuk sebelah tangan.  Bandung Bondowoso dalam versi kedua adalah seorang lelaki yang sangat mencintai dan tidak ingin melukai kekasihnya.  Patung ke-1000, ia selesaikan dalam keadaan luka yang dipendamnya di dalam kebesaran cintanya sehingga patung itu akhirnya menyerupai sosok Roro Jongrang, kekasihnya yang menjauh.

Saya menyukai versi yang ke-dua.  Lebih romantis walau pahit … hehehe.
Begitulah … cinta itu seperti pagi, sama-sama buta!

Antapani, November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s