Nelayan dari Bugis, serta Filosof dari Barat dan Timur itu

Matahari di arah timur masih rendah, sekitar 15 derajat tingginya. Saya dan matahari masih berjarak sekitar 150 juta km. Di antara kami ada ruang yang sebagian kecil terisi oleh awan-awan musim peralihan. Di arah selatan, sejajar dengan horison, membentang samudera luas: samudera Hindia. Di bawah permukaan samudera itu sesungguhnya terdapat daerah pertemuan lempeng tektonik yang besar yaitu lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia yang menjadikan daerah di sekitar sini rawan bencana gempabumi maupun tsunami.

Ya, pagi itu saya berjalan-jalan di sebagian pantai Bengkulu yang memanjang sekitar 500 km di pulau Sumatera, sehari setelah gempabumi dangkal berskala 8,5 SR di wilayah Aceh. Kami bersyukur bahwa gempa itu tidak menimbulkan tsunami, BMKG kemudian menjelaskan bahwa tipe sesar yang terjadi saat itu adalah sesar geser. Hatur nuhun Gusti.

Di pantai itu saya kemudian bertemu dengan seorang nelayan yang sedang melakukan sesuatu pada perahunya. Nelayan itu bernama Salim, dan saya menyebutnya Pak Salim. Pak Salim ini bukan penduduk asli Bengkulu, kata beliau buyutnya dahulu berlayar dari Bugis menyusuri laut Jawa dan selat Malaka sampai ke Sumatera. Perjalanan hidupnya menakdirkan beliau tinggal di Bengkulu, berumahtangga dan menafkahi keluarganya dengan memungut ikan-ikan di samudera Hindia. Dengan perahu bercadik bertenaga motor kecil yang ditumpanginya sendirian, tidak banyak ikan yang diambilnya di lautan ini, mungkin sekitar 10 kg setiap melaut dan itupun kalau beruntung.

Pagi itu adalah hari Jumat. Setiap hari jumat Pak Salim tidak melaut. Pak Salim melanjutkan ceritanya. Kata beliau, melaut dilakukannya setelah sholat subuh. Seharian di laut lepas seorang diri. Jika seharian itu tidak mendapatkan ikan maka Pak Salim meneruskannya semalaman lagi. Di lautan terkadang beliau bertemu dengan nelayan-nelayan dari pulau Jawa, dari Inderamayu katanya. Bertemu dengan manusia lain di lautan luas mungkin sesuatu yang berharga. Beliau bilang bahwa nelayan-nelayan dari Inderamayu itu kuat-kuat karena ketika ditanya sudah berapa lama melaut, mereka bilang baru 3 bulan. Padahal kami, katanya, paling lama melaut 15 hari. Pak Salim mengatakan itu sambil tersenyum cerah seolah-olah menertawakan dirinya dan bagi saya sungguh luar biasa orang-orang yang bisa menertawakan dirinya. Kemudian saya bilang bahwa mereka bisa kuat karena memang ditunjang oleh perahu yang lebih canggih, Pak Salim mengiyakan.

++++++++

Mengarungi samudera seorang diri bisa jadi suatu pengalaman yang mencekam bagi orang yang belum biasa. Setiap pengarung samudera berapapun lamanya dia berada diatas lautan tentu akan merindukan daratan tempat dimana setiap kamapanan manusia berada. Berwacana mengenai melaut saya jadi teringat seorang filosof dari Jerman: Nietzsche, saat dia memperkenalkan konsep tentang ubermensch. Nietzsche mungkin dihujat oleh banyak agamawan dan dianggap gila saat mengatakan dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra bahwa “tuhan sudah mati, dan jika masih hidup dia harus di bunuh.” Tuhan yang dimaksud Nietzsche, sejauh penafsiran saya, adalah segala bentuk kemapanan di luar manusia itu sendiri yang membuat rasa nyaman yang itu dapat berupa aturan sosial, agama, sistem politik dan sebagainya.

Ketika kemapanan-kemapanan seperti itu hancur maka manusia harus mempercayakan kelangsungan hidupnya pada kemampuan dalam dirinya sendiri. Menjadi kuat, menjadi ubermensch. Dalam filsafat Nietzsche, tujuan manusia adalah kehendak untuk berkuasa. Nietzsche menggambarkan konsep hancurnya kemapanan dan ubermensch seperti seorang pelaut yang mengarungi samudera dan sejak itu tidak ada lagi daratan yang dapat ditemuinya. Mengerikan!

++++++

Muhammad Iqbal seorang penyair dan filosof dari Pakistan memiliki pandangan yang hampir sama dengan Nietzsche, setidaknya menurut beberapa penulis. Dalam filsafatnya Iqbal tidak membunuh tuhan karena Iqbal adalah seorang muslim yang taat. Kenyarisan konsep yang sama antara Nietzsche dan Iqbal adalah mengenai manusia kuat. Filsafat Iqbal lebih menekankan pada keharusan muslim untuk menguatkan ego yang merupakan sebuah pandangan yang mengeritik pandangan hidup seorang sufi. Iqbal memang mengeritik sikap sebagian sufi. Namun ego di sini jangan dipahami seperti yang terkandung dalam kata sifat egois. Ego di sini, lagi-lagi menurut penafsiran saya, adalah semua potensi yang dimiliki individu.

Dalam syair-syairnya, Iqbal sering mengungkapkan bahwa karena ego lah sesuatu itu menjadi berarti. Sebuah piramid menjadi megah karena piramid itu memiliki ego yang kuat di banding hamparan pasir di sekitarnya. Sebuah batu permata memiliki nilai karena dia memiliki ego yang kuat dibanding batu kuarsa lainnya.

Untuk memiliki ego yang kuat, Iqbal mengatakan bahwa seseorang harus taat pada aturan, pada hukum. Seorang muslim harus taat pada aturan-aturan Alloh. Ketidaktaatan pada hukum-hukum itu, bagi Iqbal adalah sebuah kelemahan.
+++++++

Matahari terus meninggi. Saya segera pamitan pada Pak Salim. Sebelum berpisah beliau bertanya dari mana saya berasal. Saya menjawab dari Bandung. “Oh … “, katanya, “Adik saya juga dari Bandung”. Rupanya istri Pak Salim ini memiliki adik perempuan yang menikah dengan seorang lelaki dari Bandung. “Bandungnya dimana Pak”, tanya saya. “Dari Garut”, jawab Pak Salim. “Oh … “, kata saya.

Saya dan Pak Salim (Atas kebaikan Pak Basor)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s