Sesar Sumatera

Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau di Indonesia yang berada di daerah pertemuan dua buah lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia yang berupa lempeng samudera dan lempeng Eurasia yang berupa lempeng benua. Adanya perbedaan massa jenis dari kedua lempeng tersebut dimana lempeng samudera lebih besar massa jenisnya daripada lempeng benua menyebabkan tipe pertemuan lempeng tersebut berupa subduksi (gambar 1). Pada gambar 1 ditunjukkan penujaman lempeng samudera (kiri) ke lempeng benua (kanan).

Gambar 1: Subduksi

Pertemuan kedua lempeng tersebut pada akhirnya mempengaruhi geomorfologi Pulau Sumatera. Penujaman lempeng samudera Indo-Australia menjadikan bagian barat Pulau Sumatera terangkat, sedangkan bagian timur relatif turun. Akibat dari penunjaman tersebut adalah terbentuknya rangkaian busur pulau depan (seperti: P. Simeulue, P. Banyak, P. Nias, P. Batu, P. Siberut hingga P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan jalur vulkanik di tengahnya, serta sesar besar Sumetera (The Great Sumatera Fault) yang membelah Pulau Sumatera mulai dari Lampung hingga Banda Aceh dan terus hingga Burma (gambar 2).

Gambar 2: Sesar Besar Sumatera ditunjukkan dengan garis merah yang membelah pulau Sumetera dari Lampung hingga Aceh .
(Sumber gambar: http://www.tectonics.caltech.edu/sumatra/2007MarEQ/fig1.gif)

Terdapat beberapa nama untuk menunjuk sesar besar Sumatera ini diantaranya adalah sesar Semangko dan sesar Ulu-Aeryang masing-masing disarankan oleh Van Bemmelen [1949] dan Durham [1940], sedangkan istilah sesar Sumatera pertama kali diperkenalkan oleh Katili dan Hehuwat (lihat Sieh dan Natawidjaja, 2000)

Sesar Sumatera tersebut terdiri dari beberapa segmen yang tidak kontinu. Sieh dan Natawidjaja (2000) membagi sesar Sumatera ini menjadi 19 segmen utama (Gambar 3 dan Tabel 1).

Gambar 3: Segmen Utama Sesar Sumatera. (Sumber: Sieh dan Natawidjaja [2000])

Tabel 1: Segmen Utama Sesar Sumatera. Diolah dari: Sieh dan Natawidjaja (2000)

No

Segmen

Panjang (km)

Catatan Gempabumi besar

1

Sunda

~150

tidak ada catatan

2

Semangko

65

1908

3

Kumering

150

1933; 1994

4

Manna

85

1893

5

Musi

70

1979

6

Ketaun

85

1943; 1952

7

Dikit

60

tidak ada catatan

8

Siulak

70

1909; 1995

9

Suliti

95

1943

10

Sumani

60

1926

11

Sianok

90

1822; 1926

12

Sumpur

35

tidak ada catatan

13

Barumun

125

tidak ada catatan

14

Angkola

160

1892

15

Toru

95

1984; 1987

16

Renun

220

1916; 1921; 1936

17

Tripa

180

1990; 1997

18

Aceh

200

tidak ada catatan

19

Seulimeum

120

1964

Seperti daerah-daerah lain yang berada di sekitar pertemuan lempeng dan di daerah sesar aktif, di Pulau Sumatera juga dapat ditemukan aktivitas tektonik dan vulkanik seperti terjadinya gempabumi, terbentuknya gunung berapi, dan lain-lain. Gempabumi besar dengan magnitudo gempa lebih besar dari 5 SR akibat aktivitas sesar Sumatera ditunjukkan pada Tabel 1 di atas.

Di sepanjang Sesar Sumatera ini dapat ditemukan gunung-gunung berapi dengan jarak pusat vulkaniknya terhadap Sesar Sumatera bervariasi, seperti Gunung Kerinci di Provinsi Jambi dan Gunung Merapi di Provinsi Sumatera Barat. Di samping itu, di sepanjang Sesar Sumatera ini dapat ditemukan juga danau-danau besar yang terbentuk akibat langsung dari pergesaran sesar seperti Danau Singkarak di Provinsi Sumatera Barat (lihat Sieh dan Natawidjaja [2000]).

Danau-danau yang terbentuk di Pulau Sumatera tidak semuanya hasil dari aktivitas tektonik Sesar Sumatera namun sebagian terbentuk dari meletusnya gunung berapi purba. Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumatera Barat merupakan danau-danau yang terbentuk dari gunung berapi purba tersebut.


Ref.

  1. Sieh, K and Natawidjaja. 2000. Neotectonics of Sumatran Fault, Indonesia. Journal of Geophysical Research. Vol 105. No B12. P 28.295 – 28.326
  2. Pribadi, A. Mulyadi, E. Pratomo, I. 2007. Mekanisme erupsi ignimbrit Kaldera Maninjau, Sumatera Barat. Jurnal Geologi Indonesia. Vol 2. No 1. hal 31-41
  3. Tjia, H.D. dan Fatihah, R. 2008. Blasts from the past impacting on Peninsular Malaysia Bulletin of the Geological Society of Malaysia. No 54. Hal 97 – 102

One response

  1. erwinmaulana

    Reblogged this on SERPIHAN and commented:

    test

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s