menggigil di Bosscha

“Jika kau mencintaiku, mengapa kau selalu menghadiahiku sekuntum bunga?” Kata wanita muda itu. “Tidakkah kau paham juga hal itu menunjukkan bahwa kau hanya mengagumi keindahan tapi tidak menghargai kehidupan?”

“Ratusan kali aku saksikan apa yg keluar dari mulutmu itu. Ratusan kali pula aku ucapkan terimakasih. Namun sekali saja tunjukan satu alasan mengapa aku harus percaya ucapanmu itu, otong! Diri ini masih saja bimbang.”

“Burung dalam salam sangkar tampak merdu suaranya karena setiap penderitaan menajamkan mata hati. Tapi mereka, lelaki lelaki itu, memang perangkai kata … tak usah terbuai. Jangan ter-kulai jika tidak ingin ter-luka-i.”

(menggigil di Bosscha, menunggu hujan reda 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s