Keabadian

never yet i found the women

from which i wanted children,

unless it be this women whom i love:

for i love you, O eternity.

For i love you, O eternity!”

(Nietzsche: also sprach Zarathustra)

Mungkin yang kumaksud dengan keabadian ini berbeda dengan yang disadari oleh Nietzsche. Sejujurnya, aku tidak terlalu paham dengan keabadian yang dimaksudnya. Seperti halnya aku juga tidak memahami konsep dia tentang “kembalinya segala sesuatu” itu.

Keabadian yang kumaksud juga bukanlah reinkarnasi seperti yang dipahami oleh orang-orang budha. Sampai saat ini aku memilih untuk tidak percaya reinkarnasi.

Jika aku “mati”, boleh jadi wujud fisikku terurai menjadi unsur maupun senyawa kimia yang kemudian tercerai-berai dalam perut bumi. Namun tidak dengan “keakuanku”. Aku dengan keakuanku yang sadar tetap hidup. Hidup terus tanpa batas waktu dengan pengalaman-pengalaman yang baru. Abadi!

Jika kuburanku berdampingan dengan kuburanmu, bisa jadi juga uraian tubuh kita bersatu membentuk senyawa tertentu. Tapi tetap: aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Masing-masing “keakuan” kita berdiri terpisah. Kita akan terus hidup dengan keakuan masing-masing, dengan kesadaran masing-masing, dan dengan pengalaman masing-masing. Masing-masing kita abadi!

-()-

July 7, 2009 at 12:04am

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s