Pertemuan dengan siapa

PENGANTAR:
Saya harus menyelesaikan program delphi saya, tapi hampir berjam-jam mandeg, tak ada kemajuan tentunya. Akhirnya kepanikan pikiran ini saya coba salurkan lewat tulisan di bawah. Mungkin satu-satu harus dikeluarkan dan tidak perlu memenuhi aturan FIFO karena otak saya, yang saya yakini, bukanlah semata-mata gerbang logika!

ISI:
Jujur saja, bahkan untuk tontonan kocak di tv-tv sekalipun, jarang yang bisa membuat saya tertawa ngakak. Terkadang melihat tontonan seperti itu seperti melihat film-film horor yang bersimbah darah, menjijikan! Ada beberapa teman yang jika kami berkumpul sanggup membuat saya terbahak-bahak, untuk itu saya berhutang budi pada mereka, jika saya tidak dapat membalas kebaikan budi mereka, semoga tuhan membalas kebaikan budi mereka. Tapi itu tidak berarti bahwa selera humor saya rendah, saya hanya menganggap banyak hal tidak perlu ditertawakan secara terbahak-bahak. Jika bisa diselesaikan dengan tersenyum, maka mengapa harus tertawa.

Sore itu yang cerah, di saat saya pulang kerja, seingat saya tidak ada pekerjaan yang dikerjakan jadi tepatnya pulang ngantor, saya ada janjian ketemu teman lama (sebetulnya juga saya lebih suka menyebut teman tanpa embel-embel lama). Pertemuan itu di laksanakan di sekretariat almuni ITB di jalam Cimanuk Bandung, pada jam saya pulang ngantor tadi.

Seperti halnya berpuluh pertemuan lainnya yang pernah saya lalui, maka pertemuan kali ini pun selalu dilengkapi oleh secangkir kopi. Tidak ada agenda pembicaraan yang pasti, kalau pembicaraan itu kasat mata maka kita bisa melihat pembicaraan kami bergerak ke utara dan ke selatan (ngalor-ngidul gitu maksudnya). Di tempat itu, bila secangkir kopi habis, dengan mengacungkan jari secangkir lain yang belum habis lagian masih panas akan datang. Begitulah ….. cara kami bertiga menghabiskan waktu dan kopi tentunya di tempat itu, di sekretariat alumni ITB, dengan tanpa pembicaraan politik.

Menjelang maghrib, datang ke tempat pertemuan kami laksanakan seseorang yang memakai topi, bercelana tentunya walaupun tidak panjang sampai mata kaki dan membawa gitar. Setelah bersalaman ia ikut duduk di majelis yang sedang kami laksanakan. Tampaknya ia orang yang sering berada dalam majelis-majelis karena ia merasa tidak asing dengan orang asing yang baru dikenalnya, bebas. Sesaat ia mendominasi pembicaraan, tapi walaupun begitu saya merasa senang. Saat dia bicara maka seringkali saya tertawa!

Ia berceloteh bahwa mencari uang itu mudah. Ia bercerita tentang kesuksesannya menulis buku Drunken Monster yang laris manis juga tentang Drunken Mama. Saat itu saya belum tahu ada buku seperti itu, setelah gooooogling saya membaca resensinya. Tapi saya belum membelinya. Ia bercerita tentang ide-ide cerita diambil dari kejadian sehari-hari yang ia temui. Proses kreatif yang saya lihat tersalurkan dan menghasilkan uang. Saya belum tahu apakah ia menulis itu karena semata-mata untuk menulis atau untuk mencari uang. Biarlah masalah itu didebatkan oleh Tagore dan Toynbe. Lagian persetan …. jaman sekarang untuk menyelamatkan nyawa manusia saja harus keluar uang jutaan. Rumah sakit dikelola secara profesional itu artinya tidak ada pengobatan yang gratis! Jika seseorang meninggal selama ditangani rumah sakit, maka pihak rumah sakit akan berkata kami sudah berusaha tapi tuhan menentukan lain, dan tentu kita harus tetap membayar seolah-olah pulang dengan kembali sehat.

Pada saat tertentu teman yang baru ketemu seumur hidup saya itu mengeluarkan gitarnya, dan memainkannya tentunya. Tadinya, dengan melihat tampilannya, saya menyangka ia akan mengalunkan lagu-lagu yang lagi ngetren saat ini atau lagu-lagu nostalgia yang ia sukai. Tapi ia malah menyanyikan lagu tentang cicha dan anjing kecilnya, tentang apa jadinya dunia tanpa nia, tentang kerinduannya pada upacara bendera, tentang kecurigaan ia mengenai hubungan batman dan robin yang selalu berdua tanpa pernah kawin. Sekali-kali ia menerangkan latar belakang terciptanya lagu-lagu itu. Ia juga bercerita tentang grup band THEPANASDALAM yang diproklamasikan di ITB yang sampai saat ini menolak untuk tampil di tv-tv. Saya pikir kalau mereka muncul maka lagu-lagunya akan lebih kocak dari KUBURAN atau SEURIUS yang terkubur itu.

Waktu tidak mengalir, tapi saat nya harus pamitan karena pada waktu itu saya harus mempersiapkan diri ke surabaya. Saya pulang sementera ia dan teman-teman saya yang lain masih di sana. Tahu sendirikan, saya tidak bisa menceritakan kejadian selanjutnya.

KESIMPULAN:
Yah … kesimpulannya tidak ada karena tulisan ini bukan skripsi!

 

September 29, 2009 at 6:41pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s