Two Old Men: Hembusan Sufistik Leo Tolstoy

Perjalanan Abdullah bin Mubarak ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, mengingatkan saya pada sebuah karya sastra yang ditulis oleh Leo Tolstoy berjudul Two Old Men.  Karya itu terdiri dari 12 bagian yang menceritakan perjalanan dua orang lelaki tua pergi berziarah ke Yerussalem.  

Leo Tolstoy

Leo Tolstoy

 

Beginilah ringkasannya.

 

Dua orang lelaki yang sudah lanjut usia, Efim dan Elisha, hidup bertetangga di sebuah desa di Rusia.  Efim termasuk orang kaya dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun begitu, Efim tidak pernah minum alcohol, merokok,dan selalu bertutur kata dengan baik.  Sedangkan Elisha adalah pemelihara lebah yang tidak kaya juga tidak miskin.  Elisha orangnya ramah, baik terhadap tetangga.

Pada suatu waktu, Efim dan Elisha memutuskan untuk pergi berziarah ke Yerussalem (Palestina).  Sebetulnya, niat untuk pergi bersama keYerussalem sudah mereka miliki sejak lama namun sulit mereka laksanakan karena kesibukan masing-masing.  Kin, perjalanan pun dimulai.

Untuk sampai ke Yerussalem, mereka harus berjalan kaki berbulan-bulan dan kemudian harus menyeberangi laut dengan menggunakan perahu.  Dalam perjalanan kakinya, mereka menemukan daerah dengan karakter yang berbeda.  Terkadang di suatu daerah, mereka harus banyak mengeluarkan uang untuk membeli makanan, sementara di daerah lain mereka dijamu bagai tamu.

Sampai suatu ketika, di suatu jalan desa, mereka harus berpisah. Elisha kelelahan dan kehausan, sementara Efim tidak mau berhenti.  Pergilah Efim melanjutkan perjalanan, sementara Elsiha pergi ke suatu rumah, di desa itu, untuk meminta air minum dan berjanji akan menyusul Efim.

Rumah yang dituju Elisha tampak sepi bagai tak berpenghuni. Alih-alih mendapatkan pertolongan Elisha malah menemukan seorang wanita tua, seorang lelaki,dan dua anak-anak yang hampir mati karena kelaparan.  Kebaikan yang dimiliki Elisha menuntun Elisha untuk menolong mereka.  Berhari-hari Elisha di rumah itu, menolong dan memulihkan mereka dari ketidakberdayaan.  Sebagian uang bekal ziarahnya telah ia habiskan untuk membelikan makanan, membelikan kuda, membelikan apa-apa yang diperlukan keluarga itu untuk terus bangkit dan meneruskan hidup.  Ketika keluarga itu sudah kuat, Elisha pergi diam-diam.

Tadinya Elisha akan menyusul Efim,  namun karena bekal uangnya hampir habis makaia memutuskan untuk pulang ke rumah menemui istri dan anak-anaknya.  Elisha tidak menceritakan tentang keluarga yang kelaparan itu, kepada penduduk desa ia hanya mengatakan bahwa bekalnya habis diperjalanan.

 

Apa yang terjadi dengan Efim?

Efim sampai di Yerussalem, berkeliling ke Bethlehem, Bethany, dan Jordan.  Di sana dia berkali-kali melihat teman seperjalanannya, Elisha.  Berkali-kali pula Ia berusaha  mendekati Elisha dan menanyakan bagaimana Elisha bisa sampai ke Yerussalem, namun usahanya itu selalu gagal karena Elisha sekonyong-konyong lenyap dikeramaian.  Sekitar enam minggu Efim berada di Yerussalem, uangnya habis dan hanya tersisa untuk bekal pulang.  Dia berjalan ke Jaffa, kemudian berlayar ke Odessa, dan dari sana berjalan kaki kembali kerumah.

Efim mengambil jalan yang sama dengan saat ia pergi.  Di desa dimana ia berpisah dengan Elisha, Efim memutuskan untuk mengunjungi ruamh yang dituju oleh sahabatnya waktu itu.  Di rumah itu, Efim disambut dengan hangat oleh tuan rumah. Tuan rumah memberinya makanan, minuman, dan ditawari untuk menginap dirumah itu.  Tuan rumah bercerita bahwa mereka dulu hamper mati kelaparan namun kemudian ditolong oleh seorang leleki tua sehingga dapat bangkit lagi hingga sekarang.  Tuang rumah juga menceritakan cirri-ciri orang tua yang pernah menolongnya, dan Efim tahu bahwa yang mereka ceritakan tidak lain adalah sahabatnya, Elisha.

Pulanglah Efim dengan segala pertanyaan tentang Elisha.  Sesampainya di desa, penduduk desa menyalaminya.  Dari penduduk desa, Efim tahu bahwa Elisha sudah lama pulang dan tidak pernah sampai ke Yerussalem.  Efim kemudian mengunjungi sahabatnya, Elisha, namun ia tidak menceritakan bahwa ia melihat Elisha diYerussalem dan juga tidak menceritakan keluarga miskin di desa tempat merekaberpisah itu.  Efim kini menyadari sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s