Jerman, Islam, Goethe dan Muhammad s.a.w.

goethe

…. Jika Islam itu berarti berserah diri pada Tuhan, kita semua hidup dan mati dalam Islam. (Goethe)

Karen Armstrong, seorang penulis terkenal bangsa Inggris yang telah menulis lebih 20 buku tentang agama dan spriritualitas yang diantara bukunya tersebut berjudul “Muhammad: A biography of the Prophet” (1991) dan juga “Muhammad: A Prophet for Our Time” (2006), tentu saja akan berpandangan berbeda mengenai Nabi Muhammad s.a.w. dengan para kartunis yang bekerja di Charlie Hedbo.   Karen Armstong, yang menurut saya berpandangan pluralis, menganggap Nabi s.a.w. sebagai orang yang terhormat yang hidup dengan kehidupan yang layak.   Karen Armstrong juga melihat bahwa sosok Nabi s.a.w sebagai orang yang mengajarkan toleransi.

Jauh sebelum Karen Armstrong menulis buku-bukunya, di Eropa tepatnya di Jerman, ada seorang penulis besar, negarawan, dan sekaligus juga seorang filosof yang sudah meneliti dan mengagumi Nabi s.a.w.   Dia adalah Johann Wolfgang Von Goethe (1749 – 1832). Nama besarnya kini dijadikan nama intitusi yang mempromosikan bahasa dan kebudayaan Jerman: Goethe-Institut.  Dulu di Kota Bandung, Goethe Institut ini terletak di jalan Riau (RE Martadinata).

Menurut Mommsen (1967), pada usia 23 tahun Goethe sudah membuat himne yang indah yang memuji Nabi Muhammad s.a.w.   Masih menurut Mommsen, sepanjang hidupnya Goethe telah mengekspresikan rasa hormatnya pada Islam dalam banyak bentuk termasuk dalam karyanya “Faust”.

Bagaimana Goethe mengenal Islam dan Nabinya sebelum usia 23 Tahun?   Paling tidak menurut Mommsen, Goethe sudah kontak dengan Al Qur’an sejak usia 23 tahun. Pada tahun 1772, ketika Al Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dari teks aslinya oleh Megerlin, seorang profesor dari Frankurt, Goethe terang-terang tidak menyetujui hasil kerja Megerlin itu.   Goethe begitu sensitif terhadap keindahan bahasa Al Qur’an yang dalam hal ini tidak dapat ditunjukkan dalam terjemahan Megerlin itu.

Pada masa mudanya itu, Goethe mempelajari Qur’an dengan serius dan dari beberapa tulisannya tampak juga berusaha menulis dan berbicara menggunakan bahasa Arab. Ayat-ayat Al Qur’an terkadang mewarnai tulisan-tulisan Goethe.   Salah satu ayat Al Qur’an yang sering dikutip adalah QS. ‘Ibrahim [14] : 4 “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Pada tahun 1819, Goethe menulis surat untuk seorang sarjana dengan mengutip ayat di atas, “Apa yang dikatakan Al Qur’an itu benar: “Kami tidak pernah mengutus seorang rasul, kecuali dalam bahasa kaumnya”.   Juga pada tahun 1827 dalam suratnya kepada Carlyle, sahabatnya, Goethe kembali menulis, “Al Qur’an mengatakan: Tuhan memberikan seorang rosul untuk setiap kaum dalam bahasa kaumnya.”

Seperti sudah disebutkan di awal bahwa Goethe telah menulis hymne yang memuji Nabi s.a.w. Goethe sama sekali tidak setuju dengan drama yang dibuat oleh Voltaire, penulis Perancis (1694 – 1778), “ Le Fanatisme ou Mohamet le Prophete” sekalipun drama itu hanya metafora yang dibuat oleh Voltaire untuk menyindir Romawi saat itu -dalam drama tersebut Nabi digambarkan oleh Voltaire sebagai seorang pahlawan yang hipokrit, penipu dan tiranis. Sesungguhnya Voltaire sendiri dalam tulisan-tulisannya yang lain menggambarkan sosok Nabi s.a.w sebagai manusia besar, penakluk, pembuat hukum, pengatur sekaligus pengkhotbah: sebagai seorang visioner yang benar-benar terinspirasi dan yang berperan sangat penting di dunia.

Mengenai sosok Nabi s.a.w., Goethe menulis “Mahomets Gesang” (Nyanyian Muhammad) yang merupakan ekspresi ketertarikan Goethe kepada Nabi s.a.w.   Dalam nyanyian tersebut, Nabi sebagai pemimpin spritual bagi umat manusia disimbolkan sebagai arus yang kepimpinan spritualnya bergerak dari sesuatu yang sangat kecil menjadi kekuatan yang sangat besar. Dalam “Divan”nya, Goethe menulis,” “Dia adalah seorang nabi dan bukan seorang penyair dan oleh karena itu Quran mesti dilihat sebagai hukum Tuhan dan bukan sebagai buku manusia, dibuat untuk pendidikan atau hiburan.”

Dalam kesempatan lain, Goethe menulis, “ …. Jika Islam itu berarti berserah diri pada Tuhan, kita semua hidup dan mati dalam Islam.”

Apakah Goethe seorang muslim? Wallahu alam.

Setidaknya bagi saya, cukup beralasan ketika Kanselir Jerman, Angela Merkel, menegaskan Islam adalah bagian dari Jerman baru-baru ini.

Pustaka:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s