Anak Perempuan Itu!

Kabupaten Murung Raya berada di propinsi Kalimantan Tengah.  Di propinsi itu, Murung Raya merupakan kabupaten paling utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia.  Dari Palangkaraya ke Murung Raya dapat ditempuh dengan menggunakan berbagai macam moda transportasi: darat, udara, dan air (sungai).   Dengan menggunakan pesawat perintis yang berpenumpang sekitar 15 orang, dari Palangkaraya bisa ditempuh hanya 1 jam, sementara dengan menggunakan mobil dicapai kurang lebih 10-12 jam.  Ada wacana akan dibangun jalur kereta api menuju Murung  Raya,  entah jadinya tersambung ke Barito Utara atau ke Balikpapan Kalimantan Timur.  Hal itu menunggu kesepakatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah di sana.

Pagi itu saya hendak pulang ke Bandung.  HP berdering, sopir travel sudah menunggu.  Saya bergegas menuju Avansa hitam itu, rupanya saya penumpang pertama.  Setelah berbasa-basi, didudukanlah badan ini di tempat yang sudah dipesan teman.  Deretan kursi belakang sopir di sebelah kiri dekat dengan pintu.   Perlahan mobil bergerak meninggalkan penginapan yang persis dekat sungai Barito itu.–Satu persatu penumpang dijemput hampir persis seperti bagaimana dia menjemput saya.  Mula-mula seorang pemuda dengan barangnya yang heboh yang kemudian duduk paling belakang.  Kemudian satu keluarga: seorang bapak muda, ibu muda (juga), seorang bayi dan seorang anak perempuan berusia sekitar 6-7 tahun yang kemudian mereka duduk berjejer dengan saya.  Terakhir seorang ibu tua mungkin sekitar 60-70 tahunan duduk di depan berdampingan dengan pak sopir.   Lengkap sudah.   Kami siap menerobos hutan di Kalimantan Tengah itu.

Pagi yang cerah, jalanan cukup mulus, tanpa juga macet.  Pada keluarga kecil itu, saya mencoba menyapa.   Mereka tinggal di Palangka Raya, habis berkunjung ke salah satu orang tua mereka di Murung Raya.  Mereka tampak bahagia, si anak perempuan sekali-kali berceloteh yang kemudian ditanggapi dengan senang oleh bapaknya.  Dan saya hanya duduk berkesendirian sambil merasakan kebahagian mereka, sesekali juga teringat dua kunang-kunang di seberang lautan itu…hehe.

Walaupun tidak terletak di punggung gunung, Murung Raya termasuk daerah yang relatif tinggi.  Konsekuensinya jalanan dari/ke sana berkelok-kelok walaupun tidak seperti kelokan ampe puluh ampe di Agam.  Sopir berdalih bahwa kami tidak boleh berjalan pelan-pelan karena perjalanan cukup jauh dan penumpang pun manut tidak ada yang protes.

Suasana ceria keluarga itu mulai terganggu.  Anak perempuan mereka mulai gelisah, mual-mual tampaknya.  Tidak lama kemudian, dia memuntahkan apa yang tadi pagi dimakannya.  Tidak banyak bicara, sang bapak meresponnya dengan sabar.  Ibu anak itu yang agak komunikatif, sambil mencari dan memberikan minyak gosok tak henti-henti mengomeli anak perempuannya.   “Kenapa muntah?”  “Sudah nanti jangan ikut-ikut lagi bepergian”  “ini pakai buat ngelap” dan lain-lain.  Syukurlah bapaknya tidak ikut ngomel, tangannya bekerja membantu anak perempuan itu menyelesaikan masalahnya.  Kasihan juga anak itu.  Saya mencoba untuk tidak terlibat.

Jalanan masih berkelok.  Murung Raya sudah tidak tampak.  Namun kemurungan keluarga itu belum pergi.  Kini bapak keluarga itu yang muntah!  Waduh!  Sang Istri tidak bisa membantu bapaknya karena memang sedang memangku ade bayinya.  Dia ngomel lagi.  Wajar saja.  Kalau semuanya muntah kan repot.  Untunglah kekesalan Ibu itu tidak keluar berupa kata-kata yang serupa ketika dia kesal pada anak perempuannya, “Kenapa muntah?”  “Sudah nanti jangan ikut-ikut lagi bepergian”  “ini pakai buat ngelap”.   Kekesalannya ia tumpahkan dengan narasi yang lain.   Beberapa saat kemudian bapak keluarga itu meminta sopir menghentikan kendaraannya.  Dia keluar mengeluarkan sisa-sisa unek-unek dan membersihkan pakaiannya.   Saya ikut keluar dan mencoba untuk tidak terlibat.

Jalanan masih saja berkelok.  Kendaraan melaju terus.  Murung Raya sudah semakin jauh.  Kini ibu dari dua anak-anak itu yang muntah. Waduh!  Bayi kecil diserahkan ke bapaknya, sementara ibunya mencoba mengurus dirinya sendiri.  Suasana agak sepi, tidak ada yang berkomentar. Saya mencoba untuk tidak terlibat. Tiba-tiba sopir memecahkan suasana, dengan bijak dia berkata, ” jalanan di sini memang seperti ‘cobaan’, setiap kali bawa penumpang selalu ada yang muntah”, “jangankan orang yang baru, orang sering ke sini juga terkadang masih muntah” katanya menenangkan keadaan.

Setelah hampir 1,5 jam akhirnya kami sampai di Muara Teweh.  Sopir menghentikan kendaraannya di suatu rumah makan.  “Perjalanan berkelok sudah kita lalui, selanjutnya jalanan cukup lurus”, katanya.  Syukurlah. Kami beristirahat memulihkan badan.

________________________________________________________________________

Jam7 malam kami sampai dengan selamat di Palangka Raya.  Satu persatu penumpang di antar kerumahnya.  Tidak terkecuali keluarga kecil teman seperjalanan saya itu.  Saya lihat anak perempuan tadi segera keluar dari kendaraan, berlari dan di sambut oleh pelukan kakeknya.  Alhamdulillah.  Syukurlah keluarga itu sudah berkumpul lagi di rumahnya.  Semoga mereka tetap bahagia! —

Jalan meninggalkan Murung Raya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s